Kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran belum membuat aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali normal.

Jalur perdagangan energi terpenting di dunia itu masih terpantau sepi.

>>> Mitsubishi Motors Bagikan Cara Cegah Hewan Masuk Ruang Mesin Mobil

Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan menyerukan pengiriman minyak.

Namun, data pelacakan kapal MarineTraffic yang dianalisis BBC Verify menunjukkan hanya segelintir kapal yang melintas sejak kesepakatan diumumkan.

Ratusan kapal tanker dan kargo masih menunggu di kawasan Teluk. Padahal, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia biasanya melewati jalur tersebut.

Penutupan Selat Hormuz sejak akhir Februari lalu telah mengganggu rantai pasok energi global dan mendorong lonjakan harga minyak.

Para analis menilai ada tiga faktor utama yang membuat kapal enggan kembali melintas.

Tiga Faktor Penghambat

Pertama, risiko keamanan yang masih tinggi.

Selama konflik, Iran beberapa kali menembaki kapal yang mencoba melintas tanpa izin, sementara AS memberlakukan blokade dan operasi militer.

Analis minyak senior Kpler, Naveen Das, mengatakan banyak perusahaan pelayaran masih menerapkan pendekatan wait and see.

>>> BSI Catat Pertumbuhan Pembiayaan SME Capai Rp 25,69 Triliun

Pemilik kapal dan perusahaan asuransi belum siap menjadi pihak pertama yang kembali melintas.

Kedua, ancaman ranjau laut yang belum hilang. Iran sempat mengancam menempatkan ranjau, dan otoritas maritim internasional telah mengeluarkan peringatan terkait objek mencurigakan.

Proses pembersihan ranjau diperkirakan memakan waktu satu hingga enam bulan. Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO), Arsenio Dominguez, menilai pembersihan jalur menjadi syarat utama sebelum aktivitas normal.

Inggris dan Prancis telah mengirim kapal militer untuk mendukung operasi pencarian dan pembersihan ranjau.