Penguatan Rupiah Kurangi Tekanan BI untuk Naikkan Suku Bunga
Jakarta: Penguatan nilai tukar rupiah menuju kisaran Rp17.700 per dolar AS dalam beberapa hari terakhir dinilai mengurangi tekanan langsung terhadap Bank Indonesia (BI) untuk kembali menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat.
Pergerakan rupiah yang lebih stabil memberikan ruang bagi bank sentral untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan yang telah ditempuh sebelumnya.
>>> Samsung Rilis One UI 8.5 untuk Galaxy F34, Bawa Patch Keamanan Mei 2026
Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully, mengatakan kondisi tersebut terjadi setelah BI mengambil langkah pre-emptive dengan menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen pada awal bulan ini.
Kebijakan tersebut dinilai membantu menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.
Selain faktor nilai tukar, penurunan harga minyak dunia juga memberikan sentimen positif bagi perekonomian domestik.
“Harga minyak Brent yang terkoreksi ke kisaran awal USD80 per barel dinilai mampu menurunkan premi risiko yang sebelumnya meningkat akibat ketegangan geopolitik di berbagai kawasan,” tegas Rully.
Menurutnya, melemahnya tekanan harga minyak berpotensi mengurangi risiko inflasi impor yang selama ini menjadi salah satu perhatian utama otoritas moneter.
Di sisi lain, kondisi tersebut juga dapat membantu menekan potensi peningkatan beban subsidi energi yang harus ditanggung pemerintah.
>>> Manchester United Dekati Crysencio Summerville pada Bursa Transfer 2026
BI Tetap Hati-hati dalam Kebijakan Moneter
Meski demikian, Rully menilai BI masih akan bersikap hati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneternya ke depan.
Bank sentral diperkirakan tetap mengedepankan pendekatan berbasis data atau data dependent, dengan mempertimbangkan perkembangan ekonomi domestik maupun global secara menyeluruh.
Ia menjelaskan pergerakan rupiah dan sentimen risiko global akan menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan BI dalam beberapa bulan mendatang.
Stabilitas pasar keuangan internasional, arah kebijakan suku bunga negara maju, serta perkembangan geopolitik masih akan menjadi variabel yang terus dipantau.
Ke depan, BI diperkirakan akan memanfaatkan seluruh bauran instrumen kebijakan yang dimiliki untuk mendorong nilai tukar dolar AS terhadap rupiah berada pada kisaran yang lebih nyaman, yakni sekitar Rp16.800 hingga Rp17.500.
>>> Xiaomi Kenalkan Lengan Robot Pengisi Daya Mobil Listrik
Meredanya ketegangan geopolitik dan penurunan harga minyak dinilai membuka ruang yang lebih besar bagi upaya stabilisasi rupiah dalam jangka pendek hingga menengah.
Update Terbaru
Norwegia Hajar Irak 4-1 pada Laga Perdana Piala Dunia 2026
Rabu / 17-06-2026, 11:17 WIB
Akseleran dan Awantunai Tertekan Akibat Kredit Macet
Rabu / 17-06-2026, 11:17 WIB
PHK Naik di Singapura, Lulusan Sarjana Paling Terdampak
Rabu / 17-06-2026, 11:17 WIB
Suporter Keluhkan Harga Air Mineral Rp150 Ribu di Piala Dunia 2026
Rabu / 17-06-2026, 11:16 WIB
Uzbekistan Hadapi Kolombia di Laga Perdana Grup K Piala Dunia 2026
Rabu / 17-06-2026, 11:16 WIB
Haaland Cetak Dua Gol, Norwegia Hancurkan Irak 4-1 di Piala Dunia 2026
Rabu / 17-06-2026, 11:16 WIB
Skill Mismatch Hambat Target Pertumbuhan Ekonomi Nasional 8 Persen
Rabu / 17-06-2026, 11:16 WIB
Grammy Awards Tambah Kategori Best Asian Pop Music Mulai 2027
Rabu / 17-06-2026, 11:15 WIB
Jadwal Piala Dunia 2026: Argentina vs Aljazair di Arrowhead Stadium
Rabu / 17-06-2026, 11:14 WIB
Tino Livramento Absen Piala Dunia 2026, Trevoh Chalobah Masuk Skuad Inggris
Rabu / 17-06-2026, 11:14 WIB
Akun Instagram dan TikTok Nabila Zirus Dicari Usai Isu Close Friend Viral, Berikut Profil Singkatnya
Rabu / 17-06-2026, 11:14 WIB
Lionel Messi Cetak Rekor Hattrick Tertua di Piala Dunia 2026
Rabu / 17-06-2026, 11:13 WIB
KKHI Makkah Pulangkan 145 Jemaah Haji Sakit Lewat Program Tanazul
Rabu / 17-06-2026, 11:13 WIB
Lionel Messi Cetak Hattrick, Argentina Hancurkan Aljazair 3-0
Rabu / 17-06-2026, 11:13 WIB






