PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat perlambatan laba bersih bank only hingga Mei 2026.

Laba bersih hanya tumbuh 2,07% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 25,68 triliun.

>>> Pertamina Hulu Energi Raup Laba Bersih USD 2,175 Miliar Sepanjang 2025

Pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 3% yoy.

Perlambatan terjadi seiring dengan pendapatan bunga bersih (NII) yang terkoreksi tipis 0,5% yoy menjadi Rp 32,95 triliun.

Meskipun pendapatan bunga bank naik 0,3% yoy menjadi Rp 38,4 triliun, beban bunga melonjak 5,41% yoy menjadi Rp 5,45 triliun.

Hal ini menekan laba operasional bank yang hanya tumbuh 2,76% yoy menjadi Rp 31,4 triliun.

BCA berhasil menekan beban impairment sebesar 13,62% yoy menjadi Rp 1,21 triliun.

Langkah ini turut mendorong penurunan beban operasional lainnya hingga 39,41% yoy menjadi Rp 1,55 triliun.

>>> Trump Umumkan Kesepakatan Awal Damai dengan Iran, Selat Hormuz Segera Dibuka

Pendapatan komisi, provisi, fee, dan administrasi tumbuh 9,2% yoy menjadi Rp 8,44 triliun.

Namun, pendapatan dividen terkoreksi 11,65% yoy menjadi Rp 1,93 triliun, sehingga belum mampu mengompensasi penurunan pos pendapatan operasional lain.

Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit BCA tumbuh terbatas 4,85% yoy menjadi Rp 969,09 triliun.

Sementara itu, total aset bank tumbuh 8,57% yoy menjadi Rp 1.592,98 triliun.

Dana pihak ketiga (DPK) BCA tumbuh 8,8% yoy menjadi Rp 1.256,84 triliun, ditopang oleh dana murah.

Giro perbankan naik 16,78% yoy menjadi Rp 444,32 triliun dan tabungan meningkat 7,81% yoy menjadi Rp 625,37 triliun.

>>> Pemerintah Optimistis Redanya Konflik AS-Iran Longgarkan Ruang Fiskal APBN

Sebaliknya, deposito menurun 3,85% yoy menjadi Rp 187,13 triliun.