Perbankan dalam kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 1 terus mengevaluasi strategi untuk naik kelas. Namun, regulator belum menerbitkan aturan baku terkait kebijakan tersebut.

Beberapa bank tampaknya tidak menempatkan konsolidasi sebagai prioritas utama.

>>> Bank of Japan Naikkan Suku Bunga Kebijakan Jadi 1 Persen, Tertinggi Sejak 1995

Padahal, konsolidasi bisa menjadi opsi strategis untuk memenuhi syarat modal inti minimum Rp 6 triliun agar masuk KBMI 2.

Berdasarkan data riset, akumulasi modal inti 33 bank KBMI 1 mencapai Rp 115,42 triliun per Maret 2026.

Jika semua bank tidak melakukan konsolidasi, total tambahan modal mandiri yang dibutuhkan mencapai Rp 82,58 triliun.

CIMB Group Buka Peluang M&A

CIMB Group Holdings Berhad menyatakan adanya kesempatan aksi korporasi lewat merger dan akuisisi (M&A).

CEO CIMB Group Novan Amirudin mengatakan langkah itu selaras dengan komitmen jangka panjang di Indonesia.

"Bagi investor yang melihat potensi jangka panjang Indonesia, tentu saat ini merupakan waktu yang tepat untuk masuk," ujar Novan pekan lalu.

Sebelumnya, unit usaha syariah CIMB Niaga menyatakan sikap terbuka terhadap peluang kemitraan pasca-spin off.

Namun, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan belum ada skema konsolidasi baru yang dirancang.

CIMB Niaga dipastikan akan terus memantau setiap peluang di pasar perbankan tanah air.

>>> PTPN I Evaluasi Komunikasi Publik Usai Kasus Kakek Mujiran di Lampung

"Kami mempunyai beberapa anak perusahaan sehubungan dengan peraturan konglomerasi yang baru, termasuk bank usaha syariah," tutur Lani, Selasa (16/6/2026).

Bank Ina dan OK Bank Pilih Jalur Mandiri

PT Bank Ina Perdana Tbk memantapkan posisi untuk tidak menjadikan konsolidasi sebagai jalur utama. Hingga Maret 2026, modal inti Bank Ina tercatat Rp 2,81 triliun.