Bank of Japan (BOJ) memutuskan menaikkan suku bunga kebijakan menjadi 1 persen pada Selasa (17/6).

Level tersebut merupakan yang tertinggi dalam lebih dari 30 tahun, tepatnya sejak 1995.

>>> PTPN I Evaluasi Komunikasi Publik Usai Kasus Kakek Mujiran di Lampung

Keputusan ini sesuai dengan perkiraan para ekonom dalam survei Reuters. Langkah ini menjadi kenaikan pertama sejak Desember 2024, ketika BOJ menaikkan suku bunga menjadi 0,75 persen.

Keputusan diambil dengan suara 7 berbanding 1. Anggota dewan Toichiro Asada menjadi satu-satunya yang menolak dan memilih mempertahankan suku bunga di 0,75 persen.

Dampak terhadap Pasar dan Yen

Setelah pengumuman, indeks Nikkei 225 naik 0,46 persen. Mata uang yen sedikit menguat ke level 160,22 per dolar AS.

Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik 3 basis poin menjadi 2,615 persen.

BOJ juga menyatakan akan terus mengurangi pembelian obligasi pemerintah Jepang sebesar 200 miliar yen per kuartal kalender. Mulai April 2027, pembelian bulanan akan dipertahankan sebesar 2 triliun yen.

Inflasi dan Tekanan Harga

Inflasi konsumen Jepang masih di bawah 2 persen, sebagian dipengaruhi subsidi pemerintah. Namun, BOJ mencatat bahwa kenaikan harga minyak mentah telah mendorong harga di tingkat produsen.

Indeks harga produsen Jepang melonjak 6,3 persen pada Mei, menjadi laju tercepat dalam lebih dari tiga tahun akibat biaya energi yang lebih mahal.

Kepala Strategi Pasar Asia Pasifik J. P.

>>> Pefindo Beri Peringkat idAAA untuk WOM Finance, Prospek Stabil

Morgan Asset Management Tai Hui mengatakan, dukungan kuat di antara anggota BOJ menunjukkan dewan lebih khawatir terhadap inflasi dibandingkan pertumbuhan ekonomi.