Kenaikan suku bunga acuan BI Rate menjadi 5,5 persen memberikan tekanan besar bagi operasional kelompok bank modal inti kecil atau KBMI 1 di Jakarta.

Pengetatan kompetisi di industri perbankan memaksa bank bermodal kecil untuk segera memilih langkah strategis, antara menambah suntikan modal atau menempuh jalur merger.

>>> Mengenal Sumber Debu Rumah Tangga dan Penyebab Cepat Menumpuk

Guru besar ekonomi Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menjelaskan bahwa penyesuaian dana simpanan oleh nasabah besar ke bank raksasa dipicu oleh pertimbangan keamanan dan dorongan berburu imbal hasil yang lebih kompetitif.

"Nasabah yang mengejar imbal hasil tinggi akan melirik instrumen moneter seperti SRBI yang kuponnya ikut terkerek, atau produk wealth management bank raksasa," kata Rahma saat dihubungi akhir pekan lalu.

Konsekuensi dari perpindahan dana tersebut memaksa bank KBMI 1 menaikkan suku bunga simpanan demi mencegah hengkangnya nasabah.

Langkah ini berisiko membengkakkan biaya dana karena mayoritas pendanaan mereka bertumpu pada instrumen deposito.

>>> Prancis Hadapi Senegal di Laga Perdana Grup I Piala Dunia 2026

"Menghadapi era higher-for-longer ini, bank KBMI 1 tidak bisa lagi mengandalkan cara konvensional 'bakar duit' lewat bunga deposito," ucapnya.

Opsi Merger atau Penguatan Modal

Opsi penggabungan usaha atau penguatan modal struktural dinilai menjadi solusi paling rasional bagi kelangsungan usaha perbankan kecil.

Pengecualian berlaku bagi entitas yang telah memiliki spesialisasi ceruk bisnis yang kuat.

>>> Harga Emas Antam Stagnan, Logam Mulia Pegadaian Kompak Naik

"Bagi bank KBMI 1 yang strukturnya generik dan modalnya pas-pasan, bersikeras jalan sendiri justru berisiko tergilas oleh efisiensi bank-bank digital dan bank raksasa," kata Rahma.