Steven Spielberg dan David Koepp kembali berkolaborasi dalam film fiksi ilmiah terbaru berjudul Disclosure Day. Namun, ambisi besar duo ini justru membuat film tersebut sulit dinikmati.

Disclosure Day mencoba menggabungkan konspirasi, aksi laga, thriller, teknologi canggih, AI, dan sentuhan humanis. Sayangnya, perpaduan itu terasa tidak seimbang dan membuat tujuan cerita menjadi buram.

>>> Sinopsis The Equalizer 2, Bioskop Trans TV 16 Juni 2026

Alur film dibangun dari potongan-potongan konflik yang kemudian bertemu di satu titik. Namun, perekatnya lemah sehingga penonton seperti melompat dari satu adegan ke adegan lain secara ugal-ugalan.

Ritme cerita menjadi tidak stabil. Baru setengah jalan masuk ke satu plot, film sudah berpindah ke dimensi cerita lain.

Beberapa adegan terasa dipanjangkan tanpa relevansi signifikan.

Topik fiksi ilmiah dan konspirasi yang dimasukkan pun terlalu banyak, mulai dari alien hingga teknologi pengendali pikiran. Semua itu dibalut aksi laga ala popcorn movie.

Karakter dalam film ini juga terasa stereotipe. Ilmuwan naif dan warga sipil melawan pemerintah dengan militer dan lembaga rahasia yang berlagak seperti gangster.

Daniel Kellner (Josh O'Connor) digambarkan brilian dalam matematika, tetapi sering bertindak di luar logika. Sementara organisasi rahasia WARDEX sebagai 'bad guy' selalu ketinggalan langkah.

Gagasan Menarik yang Kurang Dieksekusi

Meski bermasalah, Disclosure Day tetap memiliki gagasan yang juicy. Teknologi pengendali pikiran yang dikembangkan pemerintah membuka ruang diskusi tentang pengawasan dan kontrol individu.

Film ini juga menyentuh soal pemerintah yang menyembunyikan kebenaran demi menghindari keresahan massal, seperti UFO.

Pesan logis disampaikan melalui Suster Maura: 'Buat apa Tuhan ciptakan semesta luas bila hanya untuk kita di Bumi?'