Menyaksikan Backrooms (2026) seperti pasrah masuk ke mesin MRI: menerima rasa terhimpit, bising, dan tertekan, hanya untuk mendapati hasil yang tidak semua bisa mengerti.

Kane Parsons tidak menyia-nyiakan tawaran studio untuk mengangkat serial web Backrooms (2022) menjadi film panjang. Hal itu terlihat sejak detik pertama film dimulai.

>>> Indodax Gandeng Chainalysis untuk Perkuat Keamanan dan Kepatuhan Kripto

Will Soodik sebagai penulis memahami keinginan Parsons dan potensi yang ingin dilihat penggemar. Opening title diikuti reka adegan yang merujuk pada episode pertama serial web.

Namun, Soodik mengembangkan cerita dengan serius untuk film panjang. Sayangnya, Parsons selaku kreator serial web tidak banyak terlibat dalam penulisan cerita.

Cerita Backrooms (2026) terasa seperti ruangan tak berujung: ada cerita di dalam cerita, dengan satu jalur yang dipaksa menghubungkan seluruh ruangan.

Seperti yang ditulis Soodik, manusia terbiasa membuat jalur yang menjadi loop. Begitulah Soodik dan Parsons membawa penonton selama 110 menit.

Namun, film harus berakhir. Hasilnya tidak memberikan gambaran jelas atas apa yang dilihat penonton.

Ibarat sudah susah payah menjalani MRI, tapi hasil pindai tidak menjawab pertanyaan utama.

Atmosfer Mencekam dan Akting Prima

Terlepas dari naskah yang hanya bisa dinikmati sebagian orang, masih ada bagian menarik dari Backrooms (2026).

Hal pertama yang bisa dinikmati adalah atmosfer. Tim desainer produksi patut diacungi jempol karena membangun set dengan penuh niat.

>>> Telkomsel Raih Dua Penghargaan di Twimbit Telecom Awards 2026

Tim artistik, rias, dan tata cahaya juga berperan penting membangun atmosfer merinding. Film ini tidak akan menyeramkan jika mengikuti tipikal horor gelap dan suram.