Sebuah studi baru mengungkap hubungan mengejutkan antara makanan ultra-proses dan penurunan kemampuan konsentrasi.

Penelitian yang dipimpin Dr. Barbara Cardoso dari Monash University ini menganalisis data 2.192 orang dewasa berusia 40-70 tahun tanpa demensia.

>>> Omoway Mulai Produksi Skuter Listrik Omo X di Tangerang, Investasi Rp 177 Miliar

Partisipan mencatat kebiasaan makan selama setahun, lalu peneliti mengelompokkan makanan berdasarkan tingkat pemrosesan menggunakan sistem NOVA.

Hasilnya, rata-rata 42% kalori harian partisipan berasal dari makanan ultra-proses seperti camilan kemasan, soda, mi instan, sereal sarapan, dan daging olahan.

"Setiap kenaikan 10% konsumsi makanan ultra-proses, kami melihat penurunan kemampuan fokus yang jelas dan terukur," kata Dr. Cardoso.

Penurunan ini tercermin dalam skor tes kognitif standar yang mengukur perhatian visual dan kecepatan pemrosesan.

Tidak Dipengaruhi Diet Mediterania

Temuan penting studi ini adalah hubungan negatif tersebut tetap ada meskipun partisipan menjalani diet Mediterania yang kaya sayur, ikan, minyak zaitun, dan biji-bijian.

"Asosiasi ini tidak berubah oleh kepatuhan terhadap diet Mediterania," ujar Cardoso.

"Ini menunjukkan masalahnya terletak pada pemrosesan makanan itu sendiri, bukan sekadar mengganti makanan sehat dengan yang tidak sehat."

Menariknya, efek negatif hanya terlihat pada perhatian dan kecepatan pemrosesan, bukan pada memori.

Para peneliti menganggap perbedaan ini penting karena defisit perhatian sering menjadi penanda awal risiko kognitif, muncul jauh sebelum tanda-tanda penurunan lainnya.

Mekanisme Biologis yang Diduga

Studi ini belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Faktor lain seperti stres, kualitas tidur, dan aktivitas fisik mungkin berperan.

Dr. W.

>>> IHSG Diprediksi Bergerak di Rentang 6.150-6.400 pada 17 Juni 2026

Taylor Kimberly, profesor neurologi dari Harvard Medical School yang tidak terlibat dalam penelitian, menyebut studi ini sebagai "tambahan penting bagi bukti yang ada."