Namun, ia menekankan bahwa hubungan konsisten ini tidak membuktikan makanan ultra-proses secara langsung merusak perhatian.

Tim peneliti mengusulkan beberapa mekanisme biologis: peradangan kronis akibat aditif makanan, gangguan mikrobioma usus dan sumbu usus-otak, stres oksidatif dari produk pemecahan lipid, serta interferensi dengan sirkuit reward otak.

Apakah salah satu jalur ini bekerja secara spesifik melalui tingkat pemrosesan makanan masih menjadi area investigasi aktif.

Konteks Penelitian yang Lebih Luas

Studi ini bergabung dengan literatur yang berkembang pesat.

Sebuah meta-analisis tahun 2024 di The BMJ menemukan konsumsi makanan ultra-proses yang lebih tinggi terkait dengan peningkatan risiko kecemasan dan gangguan kesehatan mental sebesar 48-53%.

Sementara itu, studi tahun 2022 di JAMA Neurology mengaitkan asupan makanan ultra-proses tinggi dengan penurunan kognitif yang dipercepat pada orang dewasa paruh baya.

Bukti saat ini masih bersifat observasional dan belum dapat mendukung klaim kausal.

Namun, konsistensi di berbagai kelompok, negara, dan hasil memberikan alasan bagi peneliti untuk melihat lebih dekat pada manufaktur makanan industri.

Studi ini melacak partisipan paruh baya, mengukur kondisi perhatian mereka saat ini.

>>> Harga Emas Antam 16 Juni 2026 Kokoh di Level Rp 2.729.000 Per Gram

Healthy Brain Project bertujuan menjawab pertanyaan tentang apa arti temuan ini bagi risiko demensia dalam 20 tahun mendatang.