Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat ke level Rp17.690 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 16 Juni 2026.

Posisi ini menjadi yang terkuat dalam tiga pekan terakhir.

>>> Komisi XII DPR Setujui Pagu Anggaran Kementerian ESDM Rp27,33 Triliun

Penguatan ini melanjutkan tren positif setelah pada penutupan Jumat, 12 Juni 2026, kurs USD/IDR ditutup di angka 17.780,0000 atau menguat sekitar 0,94 persen.

Dalam sepekan, rupiah mencatat apresiasi 0,8 persen, menjadi penguatan mingguan pertama setelah sebelas pekan berturut-turut tertekan.

Meski demikian, secara jangka panjang rupiah masih melemah 1,61 persen dalam sebulan terakhir dan 9,18 persen dalam 12 bulan.

Faktor Pemicu Penguatan Rupiah

Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen pada Juni 2026, naik 75 basis poin dari posisi 5,25 persen pada Mei.

Langkah ini merespons lonjakan inflasi domestik yang mencapai 3,08 persen pada Mei 2026, naik dari 2,42 persen sebelumnya.

>>> Harga iPhone Air di iBox Turun Hingga Rp 4,2 Juta per 25 April 2026

Kebijakan moneter yang ketat memberikan sentimen positif di pasar keuangan dan menarik minat investor asing.

Di sisi lain, tingkat pengangguran Indonesia turun menjadi 4,68 persen pada Maret 2026, membaik dari 4,85 persen sebelumnya.

Sebagai perbandingan, suku bunga acuan AS masih di level 3,75 persen pada Mei 2026, dengan inflasi 4,20 persen dan pengangguran 4,30 persen.

Secara historis, nilai tukar rupiah sempat menyentuh titik tertinggi sepanjang masa di level 18.234 pada awal Juni 2026, sementara titik terendah dalam sejarah berada di angka 2.096 per dolar AS.

>>> Kombinasi Masuaku dan Sadiki Siap Redam Portugal di Piala Dunia 2026

Pergerakan rupiah diprediksi masih akan berkonsolidasi di rentang baru seiring penyesuaian pasar terhadap selisih suku bunga yang melebar antara BI dan bank sentral global.