Gula yang dikonsumsi sendirian akan diserap hampir seketika oleh tubuh, menyebabkan lonjakan glukosa darah yang tajam atau yang dikenal sebagai glycemic spike.

Pankreas kemudian merespons dengan mengeluarkan insulin dalam jumlah besar untuk menurunkan kadar gula, dan insulin juga bertugas menyimpan kelebihan energi sebagai lemak, seringkali di area perut.

>>> Hangtuah Jakarta Lepas Pelatih dan Kapten Tim untuk Persiapan IBL 2027

Lonjakan dan penurunan gula yang berulang-ulang dapat membebani sistem metabolisme dalam jangka panjang.

Menurut spesialis nutrisi Dr. Alexandra Dalu, kebiasaan mengonsumsi gula 'telanjang' secara teratur adalah yang mendorong kenaikan berat badan dan akhirnya masalah metabolik.

Aturan Emas: Jangan Makan Gula Sendirian

Solusinya sederhana: jangan pernah makan gula sendirian.

Menggabungkan makanan manis dengan protein, lemak sehat, dan serat memperlambat laju karbohidrat masuk ke aliran darah.

Ketiga komponen ini bertindak seperti penghambat pencernaan, sehingga glukosa tiba secara bertahap dan respons insulin tetap tenang.

Bahkan buah, meskipun kaya vitamin dan serat, sebaiknya dimakan bersama makanan utama daripada sebagai camilan sore sendirian, karena saat itu ia berperilaku seperti gula murni.

Urutan Makan yang Didukung Sains

Logika yang sama berlaku untuk urutan makan dalam satu piring.

Dalam sebuah studi klasik dari Weill Cornell Medicine, peserta makan makanan yang identik pada dua hari berbeda, hanya dengan mengubah urutan.

Ketika mereka makan sayuran dan protein terlebih dahulu sebelum karbohidrat, glukosa setelah makan jauh lebih rendah: sekitar 29% lebih rendah pada 30 menit, 37% lebih rendah pada 60 menit, dan 17% lebih rendah pada 120 menit, dengan insulin yang lebih rendah sepanjang waktu.