Nilai tukar rupiah membuka sesi perdagangan di pasar internasional dengan posisi stagnan pada level Rp17.712 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pergerakan ini mencerminkan sikap kehati-hatian para pelaku pasar global.

>>> Parlemen Delaware Sahkan RUU Larangan Total Mesin ATM Kripto

Para investor saat ini mengantisipasi keputusan suku bunga dari sejumlah bank sentral utama dunia pada pekan ini.

Konsolidasi mata uang Garuda terjadi bersamaan dengan kenaikan tipis harga minyak mentah dunia sebesar 0,5 persen ke posisi US$83,59 per barel pada sesi perdagangan Selasa (16/6) pukul 07:45 WIB.

Pergerakan harga komoditas energi tersebut mulai stabil setelah sempat mengalami tekanan akibat meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan rantai pasok dari kawasan Timur Tengah.

Meskipun stabilisasi harga minyak dan melandainya tekanan indeks dolar AS dipandang sebagai perkembangan yang positif, faktor eksternal tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mengubah sentimen pasar secara drastis.

Sentimen Positif dari Kebijakan Domestik

Dari sisi domestik, iklim investasi mendapat dorongan sentimen positif setelah pelaku pasar menyambut baik langkah pemerintah yang berencana melakukan penyesuaian alokasi anggaran pada sejumlah program prioritas nasional.

Program tersebut meliputi proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Komunikasi publik yang dibangun otoritas eksekutif mengenai fleksibilitas anggaran ini diartikan oleh investor sebagai komitmen kuat dalam menjaga disiplin fiskal negara.

Selain itu, keputusan pemerintah untuk melakukan transmisi penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi mengikuti kenaikan harga minyak dunia yang melampaui asumsi dasar APBN 2026 juga direspons positif.

Langkah penyesuaian harga ini dinilai berhasil meredam kekhawatiran pelaku pasar yang sebelumnya cemas terhadap potensi pembengkakan beban subsidi yang dapat menggerus ruang fiskal anggaran negara.