Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung terbatas pada perdagangan Selasa, 16 Juni 2026.

Pelaku pasar masih menahan diri menjelang sejumlah agenda penting bank sentral global.

>>> Menteri ESDM Usulkan Pagu Anggaran Rp27,33 Triliun untuk Tahun 2027

Situasi tersebut membuat volatilitas di kawasan relatif rendah.

Di antara mata uang utama Asia, peso Filipina menjadi yang berkinerja paling lemah dengan pelemahan sekitar 0,3% terhadap dolar AS.

Peso Filipina diperdagangkan di level 60,386 per dolar AS, lebih rendah dibanding posisi sebelumnya di level 60,204.

Sementara itu, yen Jepang menguat tipis sebesar 0,1% ke level 160,16 per dolar AS.

Won Korea Selatan juga mengalami kenaikan sekitar 0,08%, sedangkan dolar Taiwan menguat marginal 0,01%. Sebaliknya, beberapa mata uang kawasan justru mengalami tekanan ringan.

Baht Thailand tercatat melemah 0,08%, ringgit Malaysia turun 0,17%, yuan China terkoreksi 0,05%, dan dolar Singapura melemah 0,04% terhadap dolar AS.

Secara tahunan, sebagian besar mata uang Asia masih berada dalam tren pelemahan sepanjang tahun 2026.

Kinerja Rupiah dan Mata Uang Lain Sepanjang 2026

Rupiah menjadi salah satu mata uang dengan tekanan terbesar, mengalami depresiasi sekitar 5,77% sejak awal tahun 2026.

>>> PUBG Mobile Rilis Update Versi 4.4 Hero's Crown, Hadirkan Tema Mitologi Prometheus

Nilai tukar rupiah bergerak dari posisi 16.670 per dolar AS pada akhir tahun 2025 menjadi sekitar 17.690 per dolar AS.

Won Korea Selatan juga tercatat melemah 4,92% sepanjang tahun berjalan, diikuti oleh rupee India yang turun sebesar 5,11%.

Pelemahan juga dialami baht Thailand sebesar 3,45%, peso Filipina 2,63%, dan yen Jepang 2,19%.

Sebaliknya, yuan China menjadi salah satu mata uang yang masih mencatat penguatan terhadap dolar AS pada tahun 2026.

Mata uang China tersebut menguat sekitar 3,37% dibandingkan posisi akhir tahun lalu.

Dolar Singapura juga membukukan apresiasi tipis sebesar 0,2%, sementara ringgit Malaysia relatif stabil dengan kenaikan sebesar 0,02%.

Pergerakan yang cenderung datar ini menunjukkan investor masih menunggu arah kebijakan moneter global berikutnya.

>>> Bahlil Usulkan ICP 2027 Rp 70-95 Dolar AS per Barel

Para pelaku pasar menanti keputusan dari bank-bank sentral utama sebelum mengambil posisi yang lebih agresif di pasar valuta asing Asia.