Nilai tukar rupiah menguat signifikan ke level Rp 17.709 per dollar AS pada penutupan perdagangan Senin (15/6/2026).

Penguatan ini terjadi setelah sebelumnya rupiah sempat tertekan hingga menyentuh Rp 18.200 per dollar AS.

>>> PLN Rilis Tarif Listrik per kWh Periode 16-21 Juni 2026, Tidak Ada Perubahan

Data Bloomberg mencatat, rupiah di pasar spot menguat 151,50 poin atau 0,85 persen.

Dalam sepekan terakhir, mata uang Garuda ini menguat 0,98 persen dari posisi Rp 18.036 per dollar AS pada akhir pekan sebelumnya.

Apresiasi rupiah ditopang oleh masuknya kembali aliran modal asing ke pasar domestik serta dampak kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 75 basis poin.

Sentimen Global dan Kebijakan BI Dorong Penguatan

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan penguatan rupiah merupakan tren positif yang dipicu perbaikan sentimen global.

Faktor utamanya adalah tercapainya kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Kekhawatiran penutupan jalur laut tersebut sebelumnya memicu lonjakan harga minyak mentah dunia yang ikut menekan rupiah.

"Penguatan rupiah ini tren positif karena adanya nota perdamaian antara Iran dan Amerika tentang Selat Hormuz," ujar Ibrahim.

Ibrahim menilai kembalinya rupiah ke area psikologis di atas Rp 17.000 per dollar AS merupakan capaian baik.

Namun, ia memperkirakan ruang penguatan lanjutan terbatas karena level Rp 17.000 diduga merupakan nilai fundamental rupiah saat ini.

Selain faktor geopolitik, kebijakan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan turut menarik minat investor terhadap Surat Utang Negara (SUN).

Imbal hasil SUN tenor 10 tahun yang naik ke kisaran 7,4 persen mendorong masyarakat memindahkan simpanan valuta asing ke rupiah.