Kurs Rupiah Menguat ke Rp 17.709 per Dollar AS, Dipicu Sentimen Global dan BI Rate
Dampak terhadap Harga BBM dan Sembako
Ibrahim menjelaskan bahwa BBM non-subsidi dan sembako memiliki mekanisme penyesuaian harga berbeda. Koreksi harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax memerlukan waktu karena bergantung pada pergerakan minyak mentah dunia.
Jika harga minyak stabil di level 70 dollar AS per barel, penyesuaian baru akan terlihat awal Juli 2026.
"Misalnya Pertamax, nantinya Rp 12.300 kemungkinan akan kembali. Kemudian Pertamax Green dan lainnya pasti akan kembali turun," pungkas dia.
>>> Adidas Indonesia Diskon Sepatu Samba 50 Persen, Harga Turun Jadi Rp1 Juta
Sebaliknya, harga kebutuhan pokok cenderung permanen dan lebih sulit turun meskipun rupiah menguat.
Tekanan harga pangan yang terjadi beberapa waktu terakhir bahkan mulai menurunkan daya beli masyarakat di pasar tradisional.
Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, berpendapat penguatan rupiah saat ini lebih didominasi pelemahan indeks dollar AS pasca-kesepakatan damai AS-Iran.
Ia menilai penguatan tersebut masih bersifat temporer.
Ariston menambahkan bahwa kembalinya rupiah ke level Rp 17.000 belum bisa menjadi indikator pulihnya ekonomi nasional secara utuh.
Dampak ke sektor riil memerlukan waktu untuk mentransmisi.
Ia mengingatkan agar situasi ini tidak terburu-buru diklaim sebagai keberhasilan moneter sebelum rupiah mampu menyentuh dan bertahan di level Rp 15.000 per dollar AS.
Dosen FEB UGM, Eddy Junarsin, memaparkan bahwa fluktuasi rupiah terjadi akibat akumulasi faktor ekonomi dan non-ekonomi. Salah satu aspek teknisnya adalah penyusutan surplus neraca perdagangan Indonesia.
Status Indonesia sebagai net importir minyak bumi menuntut biaya impor lebih besar saat harga energi global mendaki.
Kebijakan The Fed yang mempertahankan suku bunga tinggi juga memicu perpindahan modal ke pasar AS.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mencontohkan penurunan profitabilitas yang dialami perajin tahu dan tempe akibat ketergantungan pada komoditas impor.
"Bahan bakunya masih diimpor, itu akan menaikkan cost of production mereka," ungkapnya.
Purbaya menekankan pentingnya stabilitas nilai tukar untuk menjaga daya beli rumah tangga.
>>> Cesar Arturo Ramos Pimpin Laga Iran vs Selandia Baru di Piala Dunia
"Dengan kebijakan lebih bagus, rupiah yang lebih stabil akan membuat pedagang tahu tempe dan ibu-ibu rumah tangga tidak terbebani lagi," paparnya.
Update Terbaru
PLN UID Sulselrabar Catat 369 Pelanggan Baru Agrikultur pada Mei 2026
Selasa / 16-06-2026, 17:28 WIB
Audi A6 Allroad Terbaru Hadir dengan Fender Lebar ala RS6
Selasa / 16-06-2026, 17:20 WIB
Bulog Lhokseumawe Siapkan Pasokan Pangan untuk Koperasi Desa Merah Putih
Selasa / 16-06-2026, 17:20 WIB
Jamaah Haji Aceh Wafat Bertambah Jadi 10 Orang, Satu Meninggal di Madinah
Selasa / 16-06-2026, 17:20 WIB
China Desak Myanmar Ambil Langkah Pembangunan yang Didukung Rakyat
Selasa / 16-06-2026, 17:16 WIB
Galaxy Z Fold 8 Dipastikan Gunakan Chip Snapdragon
Selasa / 16-06-2026, 17:12 WIB
Samsung Galaxy S26+ vs Galaxy S26: Perbedaan Utama yang Perlu Diketahui
Selasa / 16-06-2026, 17:04 WIB
1.920 Pelajar Aceh Ikut Pawai Tahun Baru Islam 1448 Hijriah
Selasa / 16-06-2026, 17:00 WIB
Harga Bensin dan Solar di Selandia Baru Turun pada Mei
Selasa / 16-06-2026, 17:00 WIB
Berapa Kekayaan Rakin Khan? Sosok yang Dikabarkan Dekat dengan Fuji Jadi Sorotan
Selasa / 16-06-2026, 16:58 WIB
Diduga 5,7 Juta Data Nasabah Bank Jatim Bocor, Bank Belum Beri Penjelasan Resmi
Selasa / 16-06-2026, 16:55 WIB
Yamaha Gelar Popup Event Kolaborasi dengan Anime Botan Kamiina di Shibuya
Selasa / 16-06-2026, 16:53 WIB
Bupati Sigi: Sejumlah Ruas Jalan Tertimbun Longsor Akibat Gempa
Selasa / 16-06-2026, 16:52 WIB
TNBTS Amankan 13 Pendaki Ilegal Gunung Semeru
Selasa / 16-06-2026, 16:52 WIB






