Pemerintah perlu menjaga kredibilitas kebijakan ekonomi agar tren penguatan kurs rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat berlanjut.

Hal itu disampaikan Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M Rizal Taufikurahman saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Selasa.

>>> Gempa Sigi: Bupati Sebut Enam Luka, Dua Dirujuk, Jalan Tertimbun Longsor

“Agar tren penguatan IHSG dan rupiah dapat terjaga, pemerintah perlu terus menjaga kredibilitas kebijakan ekonomi melalui disiplin fiskal, kepastian regulasi, serta pengelolaan APBN yang lebih efektif dan produktif,” ujar Rizal.

Menurutnya, upaya menjaga kredibilitas kebijakan juga harus diiringi dengan percepatan reformasi struktural, peningkatan investasi, penguatan sektor industri, serta perbaikan daya beli masyarakat.

Hal tersebut diperlukan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing ekonomi nasional.

“Penguatan pasar keuangan yang berkelanjutan hanya dapat tercapai apabila didukung oleh fundamental ekonomi yang semakin kuat dan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia,” kata Rizal.

Ia menuturkan, IHSG berpotensi kembali menuju level 8.000 dalam kisaran 12–18 bulan.

Sementara itu, nilai tukar rupiah diprediksi dapat pulih ke kisaran Rp16.500 per dolar AS dalam waktu 1–2 tahun.

>>> Anwar Ibrahim dan Ramos Horta Bahas Perluasan Kerja Sama

Proyeksi tersebut dapat terealisasi dengan asumsi kondisi global semakin kondusif, suku bunga global mulai menurun, dan reformasi ekonomi domestik berjalan konsisten.

Rizal menekankan bahwa pemulihan IHSG dan kurs rupiah tidak hanya bergantung pada sentimen pasar, tetapi juga sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah menjaga stabilitas makroekonomi, memperkuat investasi, meningkatkan produktivitas, dan membangun kredibilitas kebijakan.

“Sehingga penguatan pasar keuangan dapat berlangsung secara lebih berkelanjutan dan menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas,” ucap Rizal.