Menag: Jadikan Tahun Baru Hijriah Momentum Transformasi Diri dan Sosial
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak umat Islam untuk menjadikan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah sebagai momentum melakukan transformasi diri dan sosial.
"Hijrah bukan hanya perpindahan fisik Rasulullah dari Makkah ke Madinah.
>>> Pembaruan Firmware Galaxy Watch 8 dan Watch 7 Tersedia di AS
Hijrah adalah transformasi sistem kemasyarakatan, dari masyarakat kabilah yang sempit dan primordial menuju masyarakat umat yang global, kosmopolitan, serta diikat oleh kasih sayang," ujar Menag di Jakarta, Selasa.
Menurut Menag, hijrah juga berarti perubahan cara pandang dari mentalitas kabilah menuju kehidupan umat yang inklusif, berkeadaban, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Sebelum Islam hadir, masyarakat Arab didominasi sistem kabilah yang bertumpu pada hubungan darah dan kesukuan.
Rasulullah SAW kemudian memperkenalkan konsep umat, yaitu komunitas yang melampaui batas suku, ras, dan golongan.
Menag menjelaskan perbedaan mendasar antara berbagai bentuk komunitas sosial.
Kabilah dibangun atas dasar hubungan darah, sya'abun berlandaskan ikatan keluarga besar, qawmun terbentuk melalui kesepakatan sosial dan organisasi, sedangkan hizbun merujuk pada kelompok atau partai politik.
Umat, kata Menag, merupakan komunitas yang dipersatukan oleh empat unsur sekaligus: kasih sayang, visi ke depan, kepemimpinan yang berwibawa, serta masyarakat yang santun dan taat, dalam satu sistem kepemimpinan yang disebut imamah.
>>> Kronologi Konflik Son Heung-min dan Media Korea Selatan Jelang Piala Dunia 2026
"Kalau keempat unsur itu ada dalam satu komunitas, barulah layak disebut umat," ujar Menag.
Menag mengajak umat Islam melakukan refleksi terhadap kondisi kehidupan sosial saat ini.
Ia mempertanyakan apakah masyarakat Islam Indonesia sudah bisa disebut umat atau masih terjebak dalam mentalitas kabilah, hizbun, kedaerahan, dan kelompok sendiri.
Salah satu ciri masyarakat yang masih bermentalitas kabilah adalah tertutupnya akses kepemimpinan bagi pihak di luar kelompok tertentu.
Sebaliknya, dalam masyarakat umat, kesempatan memimpin terbuka bagi siapa saja yang memiliki kapasitas dan mendapat kepercayaan, tanpa memandang latar belakang suku maupun jenis kelamin.
Menag mengingatkan bahwa keterbukaan saja tidak cukup.
>>> Mengapa Orang Barat Cebok Pakai Tisu Bukan Air? Ini Jawabannya
Persatuan, solidaritas sosial, dan kepedulian terhadap sesama harus terus diperkuat agar masyarakat benar-benar tumbuh sebagai umat yang kokoh.
Update Terbaru
Jateng Raih Capaian Sertifikasi Tanah Wakaf Tertinggi Nasional
Selasa / 16-06-2026, 19:19 WIB
Klaim Kode Redeem Honkai Star Rail Mei 2026 untuk Dapatkan Stellar Jade
Selasa / 16-06-2026, 19:18 WIB
Irak Siapkan Strategi Defensif Redam Agresivitas Erling Haaland
Selasa / 16-06-2026, 19:17 WIB
Panduan Build Hotori Neverness to Everness: Arc, Cartridge, dan Tim Terbaik
Selasa / 16-06-2026, 19:17 WIB
Solbakken Andalkan Haaland untuk Kalahkan Irak di Piala Dunia 2026
Selasa / 16-06-2026, 19:17 WIB
Vivo T5 Resmi di Indonesia: Baterai 7.200 mAh dan IP69
Selasa / 16-06-2026, 19:17 WIB
Pemerintah Arahkan Bank Himbara Fokus Biayai Empat Sektor Produktif
Selasa / 16-06-2026, 19:17 WIB
Tradisi Susu dan Dakwah Subuh Warnai Tahun Baru Islam di Garut
Selasa / 16-06-2026, 19:17 WIB
Infantino Ungkap Ide Del Piero di Balik Aturan Baru Lagu Kebangsaan Piala Dunia 2026
Selasa / 16-06-2026, 19:16 WIB
PANI Siapkan Private Placement Tahap IV, Target Dana Segar Rp1,81 Triliun
Selasa / 16-06-2026, 19:16 WIB
PPIH Imbau Jemaah Haji Debarkasi Padang Isolasi Mandiri 14 Hari
Selasa / 16-06-2026, 19:16 WIB
BYD Mulai Operasikan Pabrik Subang untuk Penuhi Display Dealer
Selasa / 16-06-2026, 19:16 WIB
Jusuf Kalla: Masjid Harus Makmurkan Jamaah dan Jadi Pusat Peradaban
Selasa / 16-06-2026, 19:16 WIB
Kortastipidkor Polri Geledah Kantor WIKA Terkait Korupsi Pabrik Gula Asembagoes
Selasa / 16-06-2026, 19:13 WIB






