Setelah buang air besar, dunia terbagi menjadi dua kelompok: mereka yang menggunakan air dan yang memilih tisu.

Masyarakat Timur umumnya memakai air, sementara masyarakat Barat lebih sering menggunakan tisu.

>>> Samuel Balinsa Resmi Tinggalkan Arema FC, Kontrak Tak Diperpanjang

Perbedaan ini sudah berlangsung lama dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari iklim hingga pola makan.

Faktor Iklim dan Sejarah

Di daerah beriklim dingin, orang enggan bersentuhan dengan air karena suhu rendah membuat air terasa tidak nyaman. Sebaliknya, di daerah tropis, air justru terasa menyegarkan.

Secara historis, tisu toilet pertama kali tercatat di China, bukan Barat. Baru pada abad ke-16, penulis Prancis Francois Rabelais menyebut tisu toilet dalam catatannya.

Popularitas tisu toilet meluas setelah ditemukannya tisu gulung pada tahun 1890, yang membuatnya mudah didapat dan terjangkau.

>>> Uus Disorot Usai Balas Kritik Netizen soal Konten Kartika Wijaksana

Pola Makan dan Kebersihan

Pola makan juga berperan penting. Masyarakat Barat yang rendah serat menghasilkan kotoran lebih kecil dan kering, sehingga mudah dibersihkan dengan tisu.

Sementara itu, masyarakat Asia dan Afrika yang tinggi serat menghasilkan kotoran lebih banyak dan lunak, sehingga air lebih efektif.

Secara ilmiah, membersihkan diri dengan air lebih higienis karena mampu membersihkan sisa kotoran dan bakteri hingga tuntas.

Meski demikian, kebiasaan memakai tisu tetap bertahan karena sudah menjadi bagian dari budaya Barat yang diwariskan turun-temurun.

>>> Pembangunan Sekolah Rakyat di Batang Dimulai 15 Juli 2026

Singkatnya, kebiasaan ini merupakan hasil gabungan dari iklim, sejarah, industri, dan pola makan yang membentuk tradisi selama berabad-abad.