Pasar batu bara global saat ini menghadapi tekanan pasokan signifikan dari dua produsen utama, China dan Indonesia.

Kondisi ini berpotensi mendorong harga batu bara tetap bertahan di level tinggi.

>>> Indomaret Gelar Beragam Promo Belanja Menarik Sepanjang Juni 2026

Ledakan tambang di Provinsi Shanxi, China, yang menewaskan sejumlah pekerja memicu inspeksi keselamatan massal. Langkah ini memperketat pasokan batu bara domestik China.

Di sisi lain, pelaku pasar mencermati rencana Indonesia menata ulang ekspor batu bara. Pengelolaan ekspor akan lebih terintegrasi di bawah Danantara, yang direspons pasar sebagai ketidakpastian pasokan.

CEO DBX Commodities Alexandre Claude mengatakan kombinasi pembatasan produksi di Shanxi dan transisi tata kelola di Indonesia memperketat pasokan batu bara laut.

"Persediaan mulai menurun dan risiko kenaikan harga dalam jangka pendek masih cukup besar," ujarnya.

Pengetatan pasokan domestik diperkirakan mendorong China meningkatkan impor batu bara.

DBX Commodities memproyeksikan impor batu bara termal China pada Juni 2026 mencapai 27,8 juta ton, naik 27,6 persen secara tahunan.

Peningkatan permintaan ini didorong lonjakan kebutuhan listrik musiman menjelang musim panas, sementara produksi lokal terhambat inspeksi keselamatan.

Produksi Batu Bara Indonesia Menurun

Tekanan rantai pasok global diperparah penurunan produksi Indonesia, eksportir batu bara termal terbesar dunia.

Direktur Eksekutif McCloskey Scott Dendy mengungkapkan produksi batu bara termal Indonesia pada empat bulan pertama 2026 menyusut sekitar 7 persen secara tahunan.

>>> Carl Pei: Harga Memori Smartphone Kini Lebih Mahal dari Chipset

Jika tren berlanjut, volume ekspor batu bara Indonesia diproyeksikan merosot 11 persen menjadi 446 juta ton sepanjang tahun ini.

Penurunan ini terjadi saat sejumlah negara Asia Tenggara justru meningkatkan konsumsi batu bara.