Aliansi mahasiswa yang menamai diri BEM Bersatu menyatakan penolakan terhadap gerakan mahasiswa yang ditunggangi kepentingan politik praktis.

Juru bicara BEM Bersatu, Rahmat Djimbula, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, menegaskan bahwa gerakan mahasiswa harus tetap menjadi suara rakyat, bukan alat elite dalam perebutan kekuasaan.

>>> Argentina vs Aljazair: Albiceleste Hindari Awal Buruk Empat Tahun Lalu

Pernyataan itu disampaikan merespons sejumlah aksi mahasiswa belakangan ini yang dinilai mulai kehilangan arah.

Menurut Rahmat, aksi tersebut minim kajian, lemah argumentasi, dan tidak jelas substansi tuntutannya. Hal ini memunculkan pertanyaan apakah gerakan masih berpihak kepada rakyat atau telah disusupi agenda tertentu.

BEM Bersatu juga mempertanyakan prioritas isu yang diangkat. Di tengah kebutuhan mendasar masyarakat, perhatian justru tersedot pada isu yang tidak menjadi urgensi utama.

Rahmat mencontohkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berdampak langsung pada gizi dan kesejahteraan masyarakat justru menjadi sasaran penolakan, meski perbaikan tata kelola tetap diperlukan.

Selain itu, BEM Bersatu melihat indikasi keterlibatan aktor politik praktis dalam gerakan mahasiswa. Aliansi ini menyinggung mantan Ketua BEM Universitas Gadjah Mada, Tiyo Ardianto.

Rahmat mengungkapkan dugaan bahwa Tiyo memiliki kedekatan dengan jaringan politik tertentu.

Mobil Fortuner yang digunakan diduga terdaftar atas nama Siti Nuraeni, adik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso, yang merupakan besan Jenderal TNI Andhika Perkasa, tokoh tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024.

>>> Bank Jatim Pastikan Tak Temukan Indikasi Kebocoran Data dari Sistem Internal

Dugaan ini diperkuat kehadiran politisi PDI Perjuangan, Andi Widjajanto, di tengah massa aksi.

Keterkaitan juga diperkuat oleh kehadiran Tiyo dalam dialog nasional kebangsaan di Bandung pada 18 Juni 2026 bersama sejumlah tokoh, termasuk Said Didu, Roy Suryo, Refly Harun, dan dr. Tifa.