Nama Vozinha mendadak menjadi perbincangan global setelah tampil gemilang saat Cape Verde menahan imbang Spanyol di laga pembuka Grup H Piala Dunia 2026.

Pertandingan yang berlangsung di Atlanta Stadium pada Senin (15/6/2026) malam WIB itu menjadi panggung bagi kiper berusia 40 tahun tersebut untuk menunjukkan kemampuannya.

>>> Jadwal Piala Dunia 17 Juni 2026: Prancis vs Senegal hingga Argentina vs Aljazair

Vozinha sukses meredam 27 tembakan Spanyol, dengan tujuh di antaranya tepat sasaran. Aksi penyelamatan bertubi-tubi itu membuatnya dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan.

Pelatih Cape Verde, Bubista, mengungkapkan bahwa tangisan Vozinha usai laga merupakan cerminan dedikasi dan perjuangan panjang sang kiper.

"Dia sangat diliputi emosi.

Dia adalah pemain yang sangat berpengalaman dan telah berjuang sepanjang tahun-tahun ini untuk bisa berada di panggung sebesar ini.

Tangisan itu juga merupakan tangisan ketangguhan," ujar Bubista.

Perjalanan Karier yang Unik

Lahir di Mindelo, Cape Verde, Vozinha awalnya dipersiapkan menjadi penyerang. Sang ayah bahkan ingin menamainya Valdano, terinspirasi dari striker legendaris Argentina Jorge Valdano.

Namun, pihak berwenang tidak mengizinkan nama tersebut. Ia akhirnya mendapat nama panggilan Vozinha yang berarti "Suara Kecil" dan beralih peran menjadi penjaga gawang.

Karier profesionalnya dimulai bersama Batuque pada 2007.

>>> Mengenal Hari Tuberkulosis Sedunia dan Peringatan Penting Setiap 24 Maret

Sejak itu, ia merantau ke berbagai kompetisi di Portugal, Angola, Moldova, Siprus, hingga Slovakia, sebelum akhirnya menetap di Chaves.

"Saya akan mengatakan kepada Vozinha yang berusia 18 tahun untuk benar-benar bangga pada dirinya sendiri. Saya telah bekerja sepanjang hidup saya untuk momen ini," ucap Vozinha.

Ia juga menekankan bahwa penghargaan man of the match adalah untuk seluruh rekan setimnya. "Tanpa mereka tidak ada yang mungkin terjadi.

Saya akan terus bekerja untuk Cape Verde dan untuk rakyat kami," tuturnya.

Kerinduan pada Keluarga

Tangisan Vozinha di lapangan juga dipicu oleh kenangan mendalam bersama orang-orang terdekatnya. Ia teringat mendiang kakek dan neneknya yang telah meninggal beberapa tahun lalu.

"Mereka adalah segalanya bagi saya, bagi hidup saya," terang Vozinha. Ia juga menangis karena sang ibu tidak bisa hadir akibat masalah visa.

Performa gemilang Vozinha tidak hanya membuahkan penghargaan, tetapi juga melambungkan popularitasnya di media sosial.

>>> Hindari Sembilan Kebiasaan Ini Agar Smartphone Tidak Cepat Rusak

Akun Instagram @vozinha melesat dari 50 ribu menjadi 5,3 juta pengikut hanya dalam beberapa jam.