Pemerintah optimistis meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran dapat mengurangi beban subsidi energi dan memperlonggar ruang fiskal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa penurunan risiko lonjakan harga energi global membuka peluang pembiayaan yang lebih luas untuk program prioritas nasional.

>>> Menteri Haji Wacanakan Skema War Tiket Hati untuk Atasi Antrean Panjang

"Kan kemarin sebagian anggaran sudah kita sisihkan untuk subsidi," kata Purbaya di Jakarta, Selasa (16/6/2026).

Menurutnya, penurunan ketegangan di Timur Tengah membuat pengelolaan APBN menjadi lebih optimal. Pemerintah kini memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menyesuaikan alokasi belanja negara.

"Sehingga akan jauh berkurang (beban subsidi) dan ada ruang untuk memberi pembiayaan program-program lain yang dianggap penting oleh presiden.

Jadi kita lihat seperti apa perkembangannya, kemudian baru kita sesuaikan," ujar Purbaya.

>>> UNESCO Tetapkan Tema Hari Seni Sedunia 2026: A Garden of Expression

Kondisi ini diperkuat data Oilprice pada Selasa (16/6/2026) pukul 15.17 WIB yang mencatat penurunan harga minyak mentah Brent sebesar 1,71 persen menjadi US$ 81,75 per barel.

Minyak WTI juga melemah 1,86 persen ke angka US$ 79,25 per barel.

Sebelum perkembangan ini, pengelolaan belanja subsidi tetap difokuskan untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik. "Belanja subsidi dan kompensasi dipastikan tetap bisa menjaga daya beli masyarakat," kata Purbaya.

Hingga 31 Mei 2026, Kementerian Keuangan mencatat realisasi belanja subsidi dan kompensasi telah mencapai Rp 203,7 triliun atau 45,6 persen dari pagu APBN.

>>> Mako Bakery Promo Dry Cake Mulai Rp 41.000, Berlaku 9-14 Mei 2026

Anggaran tersebut terdiri dari realisasi belanja subsidi sebesar Rp 94,8 triliun dan belanja kompensasi yang menyerap dana Rp 108,9 triliun.