PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) mengambil langkah mitigasi menghadapi periode suku bunga tinggi dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Head of Corporate Finance and Investor Relation BEST, Rika Mandasari, menjelaskan bahwa tingginya suku bunga dan depresiasi rupiah menjadi faktor krusial bagi pelaku usaha saat mempertimbangkan ekspansi atau investasi baru.

>>> Perbanyak Doa dan Dzikir Selama Fase Armuzna, Ini Bacaan yang Dianjurkan

"Dampak utama suku bunga tinggi adalah meningkatnya biaya pendanaan dan kehati-hatian investor," katanya kepada Kontan, Rabu (17/6/2026).

Risiko penurunan nilai rupiah telah diantisipasi BEST melalui konversi seluruh pinjaman ke dalam denominasi rupiah sejak tahun 2023 dengan tingkat suku bunga kompetitif.

"Dengan struktur keuangan yang sehat dan pendapatan berulang yang terus berkembang, kami optimistis menjaga kinerja secara berkelanjutan," ungkap Rika.

Fokus pada Pengembangan Kawasan Industri

BEST secara konsisten memfokuskan pengerjaan pada pengembangan kawasan industri MM2100 yang dihuni investor dari berbagai negara, khususnya Jepang dan kawasan Asia lainnya.

Mayoritas tenant di area tersebut bergerak di sektor otomotif, makanan dan minuman (F&B), logistik, hingga elektronik.

>>> CIMB Niaga Salurkan Kredit Sindikasi Rp4,7 Triliun ke Plaza Indonesia

Permintaan lahan juga datang dari sektor data center, pergudangan/cold storage, F&B, serta packaging.

"Ini merupakan sektor-sektor penting dalam mendukung pertumbuhan industri nasional," tuturnya.

BEST juga mengembangkan BeFa Industrial Hub, produk pergudangan modern multifungsi siap pakai yang ditujukan bagi tenant dengan kebutuhan fleksibilitas operasional cepat.

"Produk ini memperkuat ekosistem MM2100 sebagai kawasan industri terintegrasi yang mampu mengakomodasi berbagai skala kebutuhan investasi," papar Rika.

>>> Profil Siti Nuraeni, adik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso Sosok Diduga Pemilik Mobil Fortuner yang Dipakai Tiyo Ardianto Hingga Ditemukan Alat Pelacak

Sebelumnya, BeFa mencatat penjualan lahan industri seluas dua hektare dengan nilai marketing sales mencapai sekitar Rp55 miliar pada kuartal I 2026.