Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berpotensi memiliki ruang fiskal yang lebih luas jika ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran benar-benar mereda.

Pernyataan itu disampaikan di Kompleks Parlemen pada Senin (15/6/2026). Menurutnya, penurunan tensi global diprediksi bakal mengurangi tekanan terhadap harga energi dunia.

>>> IHSG Menguat 4,12% ke Level 6.254,97 pada Senin

“Harusnya begitu kan,” kata Purbaya.

Pemerintah sebelumnya telah mengantisipasi risiko gejolak harga energi global dengan menyisihkan sebagian anggaran untuk subsidi energi.

Penurunan kebutuhan subsidi ini akan memberikan keleluasaan bagi pemerintah dalam mendanai program prioritas lainnya.

“Kan kemarin sebagian anggaran sudah kita sisihkan untuk subsidi. Sehingga akan jauh berkurang.

Ada ruang untuk memberi pembiayaan program-program lain yang dianggap penting oleh Presiden,” tegas Purbaya.

Kendati demikian, Kementerian Keuangan belum berencana melakukan penyesuaian terhadap APBN dalam waktu dekat. Mereka memilih untuk terus memantau dinamika situasi global terlebih dahulu.

“Jadi kita lihat seperti apa, dan baru kita adjust,” kata Purbaya.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan hingga Mei 2026, belanja subsidi dan kompensasi energi telah mencapai Rp 203,7 triliun.

>>> Bruno Fernandes Bangga Kembali Berjuang Bersama Cristiano Ronaldo di Piala Dunia 2026

Angka itu terdiri dari realisasi subsidi energi sebesar Rp 94,8 triliun dan kompensasi energi sebesar Rp 108,9 triliun.

Purbaya menekankan bahwa belanja subsidi dan kompensasi tersebut tetap menjadi instrumen krusial dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah situasi ekonomi saat ini.

“Belanja subsidi dan kompensasi dipastikan tetap bisa menjaga daya beli masyarakat. Sekarang tumbuhnya mencapai 208,2 persen,” ujar Purbaya.