Biaya produksi smartphone mengalami lonjakan signifikan akibat kenaikan harga komponen memori RAM dan penyimpanan yang kini mengalahkan harga chipset.

Fenomena ini dipicu oleh tingginya permintaan chip memori di industri kecerdasan buatan (AI) yang terjadi sejak awal tahun 2026.

>>> IHSG Berpotensi Lanjutkan Penguatan ke Resistance 6.360

Pendiri sekaligus CEO Nothing, Carl Pei, mengungkapkan bahwa biaya RAM dan penyimpanan saat ini dapat memakan lebih dari separuh total biaya material (bill of materials/BOM) sebuah smartphone.

Lonjakan harga komponen memori tersebut berjalan sangat cepat dalam beberapa bulan terakhir, seperti dilansir dari Selular.

Kenaikan harga ini membuat produsen smartphone harus membayar nominal lebih tinggi demi mendapatkan kuota memori dari pemasok di tengah keterbatasan pasokan.

Akibatnya, harga jual smartphone baru di pasaran ikut terdampak langsung sejak Februari 2026 dengan kenaikan sekitar 100 dollar AS atau Rp 1,8 juta lebih mahal dari generasi sebelumnya.

>>> BYD Atto 1: Simulasi Biaya Perjalanan Jakarta-Solo via Tol Trans Jawa

Pei menjelaskan situasi lonjakan harga komponen tersebut saat memproduksi ponsel Nothing Phone (4a), di mana biaya memori meningkat dua kali lipat saat proses produksi dan kembali naik dua kali lipat setelah peluncuran resmi dilakukan.

"Kini RAM dan storage dapat membentuk lebih dari 50 persen biaya material sebuah smartphone," tulis Pei.

Sejumlah pengamat industri mencatat ledakan kebutuhan AI mendorong kenaikan tajam harga DRAM sepanjang tahun 2026.

>>> Harga Crypto Hari Ini 17 Juni 2026: Pantau Pergerakan 2 Juta Pasangan Aset

Data yang dihimpun menunjukkan bahwa kenaikan komponen memori ini menambah beban biaya produksi smartphone sekitar 10 hingga 30 persen, tergantung pada spesifikasi perangkat yang dibuat.