Blokade AS Tekan Pendapatan Minyak Iran hingga Puluhan Triliun Rupiah
Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mengungkapkan bahwa perang di Timur Tengah telah menyebabkan kerugian besar bagi perekonomian Iran dan Amerika Serikat.
Gangguan pasokan energi global menjadi pemicu utama penurunan pendapatan Iran dan lonjakan harga BBM di AS.
>>> Rounak Chouhan Lolos ke Babak Utama Macau Open 2026
Data dampak ekonomi ini disampaikan dalam Seminar Islamic Economic Outlook di kantor Kementerian PPN/Bappenas.
Hambatan pengiriman komoditas energi akibat pemblokiran jalur menjadi faktor utama runtuhnya stabilitas finansial kedua negara.
Pendapatan Minyak Iran Terhenti
Anggota DEN, Firman Hidayat, menjelaskan bahwa penghentian paksa arus ekspor minyak mentah membuat pendapatan Iran menyusut sekitar US$500 juta per hari.
Dengan asumsi kurs Rp17.741, jumlah tersebut setara dengan Rp8,87 triliun.
"Iran yang tadinya bisa kirim oil-nya, mereka dapet revenue, sekarang akhirnya US$500 juta per day revenue-nya Iran itu stop karena US juga blockade," ungkap Firman.
Kondisi ekspor yang lumpuh langsung menghentikan aktivitas produksi migas di dalam negeri Iran.
>>> Pendaftaran KIP Kuliah 2026 Jalur Mandiri Dibuka 15 Juni
Situasi ini memperpanjang daftar tekanan ekonomi setelah Iran menghadapi embargo dan sanksi selama 47 tahun. Blokade AS semakin memperparah kondisi yang sudah sulit.
Dampak ke Amerika Serikat
Efek domino konflik juga menekan perekonomian AS melalui kenaikan harga BBM yang mencapai US$4,5 per galon atau sekitar Rp79.776.
Lonjakan harga energi di tingkat konsumen memicu penurunan approval rating Presiden Trump hingga titik terendah.
Kemerosotan kepuasan publik berpotensi memengaruhi probabilitas kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu paruh waktu AS pada November mendatang.
Di platform Polymarket, angka probabilitas tersebut sudah merosot di bawah 50 persen.
>>> Kementan Salurkan Benih Unggul Perkebunan Rp9,95 Triliun
"Ini yang kemudian mendorong Trump harus selesaikan perangnya sebelum bulan Agustus," pungkas Firman. Pernyataan ini menekankan urgensi penyelesaian konflik demi stabilitas ekonomi global.
Update Terbaru
Tujuh Tahun Rilis, Devil May Cry 5 Cetak Rekor Penjualan Berkat Serial Netflix
Rabu / 17-06-2026, 14:00 WIB
Acerpure India Beri Diskon 5% untuk Peralatan Rumah Pintar di E-Store Resmi
Rabu / 17-06-2026, 14:00 WIB
Kemenaker Tutup MagangHub Batch III Angkatan I pada 18 Juni 2026
Rabu / 17-06-2026, 14:00 WIB
Koperasi Merah Putih Ditargetkan Serap 1,4 Juta Tenaga Kerja hingga 2029
Rabu / 17-06-2026, 14:00 WIB
Jumlah Pemain Dead by Daylight Melonjak Drastis Lewati Rekor Steam
Rabu / 17-06-2026, 13:59 WIB
Kementan Kumpulkan Penyedia Bibit untuk Percepat Perkebunan 870 Ribu Hektare
Rabu / 17-06-2026, 13:56 WIB
Polisi Alihkan Arus Lalu Lintas di Jakarta Imbas Aksi Unjuk Rasa
Rabu / 17-06-2026, 13:55 WIB
Grab For Business Luncurkan Corporate Dine Out untuk Efisiensi Biaya Jamuan
Rabu / 17-06-2026, 13:54 WIB
Halocoko Resmi Jadi Official Ice Cream FIFA World Cup 2026, Perkuat Ekspansi Pasar
Rabu / 17-06-2026, 13:54 WIB
Argentina Hajar Aljazair 3-0 di Laga Perdana Piala Dunia 2026
Rabu / 17-06-2026, 13:52 WIB
Kim Woo-bin Dukung Shin Min-a di Premiere Film 'The Eyes'
Rabu / 17-06-2026, 13:52 WIB
Spanyol Imbang Lawan Tanjung Verde, Mikel Merino Minta Tim Tetap Tenang
Rabu / 17-06-2026, 13:52 WIB
Lionel Messi Cetak Hat-trick dan Pimpin Top Skor Piala Dunia 2026
Rabu / 17-06-2026, 13:52 WIB
SKIN1004 Hadirkan Tiga Varian Sunscreen untuk Kulit Berminyak
Rabu / 17-06-2026, 13:52 WIB






