Kementerian Pertanian (Kementan) mengalokasikan anggaran sebesar Rp9,95 triliun untuk menyalurkan benih unggul tanaman perkebunan strategis. Program ini bertujuan mempercepat hilirisasi sektor pertanian nasional.

Penyaluran benih diumumkan dalam acara di Jakarta Selatan pada Selasa (17/6/2026).

>>> Promo Point Coffee 18 Mei 2026: Frappe Rp 18.000 dan Diskon Minuman Lain

Program ini merupakan rencana multitahun 2025-2027 dengan target cakupan lahan mencapai 870 ribu hektare di seluruh Indonesia.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebutkan komoditas yang menjadi fokus adalah kopi, kakao, tebu, kelapa, mete, dan pala.

"Ini komoditas strategis yang demand-nya tinggi di tingkat dunia," ujar Amran.

Setiap petani akan menerima bantuan benih untuk lahan seluas 2 hingga 5 hektare. "Jadi jatahnya itu biasanya 2 hektare sampai maksimal 5 hektare untuk satu orang.

Tetapi kalau di atas itu, itu sudah pengusaha," jelas Amran.

Pemerintah menyiapkan dana sekitar Rp10 triliun untuk pengadaan benih selama tiga tahun.

>>> Argentina Patahkan Kutukan Juara Bertahan di Piala Dunia 2026

Pencairan dilakukan bertahap: Rp2,54 triliun pada 2025, Rp5,63 triliun pada 2026, dan Rp1,58 triliun pada 2027.

Alokasi terbesar untuk komoditas kakao sebesar Rp2,49 triliun, disusul kopi Rp2,16 triliun, tebu Rp1,52 triliun, kelapa Rp1,16 triliun, mete Rp500 miliar, serta lada dan pala Rp350 miliar.

Kementan melibatkan Satgas Pangan, TNI, Polri, dan KPK untuk mengawal program ini. "Ini kita kawal bersama.

Karena ini adalah masa depan anak cucu kita. Satu kali tanam, seperti kelapa itu bisa panen 30 sampai 60 tahun," ujar Amran.

Pengawasan ketat dinilai krusial karena kesalahan pada pembibitan awal akan berdampak buruk hingga puluhan tahun. "Kalau salah di pembibitan, akan salah 30 tahun.

>>> BP BUMN Pangkas 216 Entitas Perusahaan Negara Demi Efisiensi

Salah di pembibitan, akan salah 60 tahun. Jadi kami pengalaman, pada saat pembibitan itu nggak boleh salah," tegas Amran.