Menurut Dr. Geoffrey Preidis, Associate Professor of Pediatrics di Baylor College of Medicine dan Texas Children's Hospital, mikrobiota usus adalah kumpulan seluruh organisme hidup di usus, termasuk bakteri, virus, dan jamur.

>>> Summarecon Agung Berharap Insentif PPN DTP Berlanjut Tahun Ini

Dr. Geoffrey Preidis menambahkan bahwa mikrobioma yang bervariasi lebih mampu pulih dari gangguan penyakit, efek obat-obatan, maupun stres.

Komponen ini juga membantu penyerapan nutrisi, mengontrol sistem imun, serta berinteraksi dengan otak untuk memengaruhi kualitas tidur dan suasana hati.

Namun, Dr. Geoffrey Preidis mengingatkan bahwa temuan ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat pasti antara pergeseran jumlah mikrobioma dan gangguan pencernaan.

Tubuh manusia dan mikrobioma usus memiliki ritme sirkadian alami.

"Baik tubuh maupun mikrobioma usus memiliki ritme sirkadian alami yang dapat terganggu oleh perubahan pola makan atau waktu makan," kata Preidis.

Disregulasi ritme biologis diperkirakan dapat memengaruhi produksi hormon, fungsi sistem kekebalan tubuh, jalur komunikasi usus-otak, hingga pergerakan sisa makanan di saluran cerna.

Oleh karena itu, praktisi kesehatan merekomendasikan jeda sebelum tidur.

Direktur Gastrointestinal Motility Laboratory di Massachusetts General Hospital, Dr. Kyle Staller, menyarankan untuk menghentikan aktivitas makan dalam waktu tiga hingga empat jam sebelum tidur.

Jeda ini memberi kesempatan lambung mengosongkan makanan secara optimal.

Jika konsumsi makanan malam tidak dapat dihindari, Dr. Kyle Staller dan Dr. Geoffrey Preidis menyarankan porsi kecil.

>>> Aturan Potongan Komisi Perpres Ojol Belum Terlaksana di Lapangan

Makanan berat, berminyak, atau tinggi lemak sebaiknya diganti dengan buah-buahan, sayur, karbohidrat kompleks, atau protein yang lebih mudah dicerna.