Garda Revolusi Iran mengklaim telah menargetkan pangkalan udara milik Amerika Serikat sekitar pukul 04.50 waktu setempat.

Komando Pusat AS merespons dengan menyatakan bahwa Iran telah meluncurkan rudal balistik ke arah wilayah Kuwait.

>>> Bocoran Samsung Galaxy A27: Snapdragon 6 Gen 3, Kamera Ultrawide Turun ke 5 MP

Namun, otoritas militer memastikan bahwa serangan rudal tersebut berhasil dicegat dengan sukses sebelum mencapai target.

Serangan-serangan ini dilaporkan terjadi setelah pasukan Amerika Serikat melakukan operasi terhadap situs militer Iran yang dianggap mengancam pelayaran komersial.

Dalam operasi tersebut, sejumlah drone milik Iran juga berhasil dilumpuhkan oleh sistem pertahanan udara.

Perkembangan Diplomasi dan Stabilitas Kawasan

Harga minyak sebenarnya telah menunjukkan tren penurunan lebih dari 10 persen sejak 18 Mei lalu.

Tren ini dimulai ketika Trump memutuskan untuk membatalkan rencana serangan militer demi memberikan ruang lebih bagi proses diplomasi.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa pembicaraan kedua negara telah menunjukkan kemajuan yang cukup berarti.

Menurutnya, Presiden Trump lebih mengedepankan jalur diplomasi dan ingin memberikan kesempatan maksimal bagi keberhasilan negosiasi tersebut.

Amerika Serikat dan Iran memang telah berada dalam kondisi kebuntuan terkait kendali Selat Hormuz sejak April lalu.

Situasi ini terus dipantau oleh para pelaku pasar minyak karena dampaknya yang sangat besar terhadap stabilitas harga energi global.

Televisi pemerintah Iran sempat mengklaim bahwa Teheran telah menyetujui draf awal nota kesepahaman untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Dalam draf tersebut, lalu lintas kapal komersial akan dikembalikan ke level normal seperti sebelum terjadinya konflik.

Namun, pihak Iran menegaskan bahwa pengelolaan lalu lintas di selat tersebut nantinya akan berada di bawah kendali bersama Iran dan Oman.