Selandia Baru mengonfirmasi kasus pertama flu burung H5N1 pada seekor burung skua cokelat yang ditemukan di Pantai Petone.

Menteri Biosekuriti Andrew Hoggard menyatakan burung laut tersebut dinyatakan positif setelah ditemukan pada 10 Juli.

>>> R Kelly Ajukan Banding ke Trump untuk Pengurangan Hukuman

Kasus ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi risiko terhadap populasi burung asli yang rentan.

Kewaspadaan dan Pemantauan

Hoggard mengatakan belum ada bukti kematian massal atau penularan antar burung liar di Selandia Baru.

Meski demikian, ia mendesak masyarakat untuk waspada dan melaporkan jika menemukan tiga atau lebih burung sakit atau mati.

Selandia Baru telah bersiap menghadapi kedatangan flu burung dengan program vaksinasi untuk lima spesies burung terancam punah, termasuk kākāpō dan takahē.

Kementerian Industri Primer menyoroti program pengawasan ekstensif di suaka margasatwa, kebun binatang, dan sektor unggas.

>>> Cheria Holiday Luncurkan Paket Halal Tour Eksklusif ke Asia Tengah

Profesor biologi konservasi Universitas Auckland, James Russell, mengatakan flu burung merupakan ancaman yang tidak diinginkan bagi spesies burung yang sudah berada di bawah tekanan.

Ia menekankan pentingnya mengurangi tekanan lain pada populasi burung untuk membantu pemulihan.

Ahli virologi Universitas Otago, Jemma Geoghegan, mencatat bahwa Selandia Baru mendapat manfaat dari pengalaman internasional sebelumnya dalam menangani wabah.

Namun, Profesor Nigel French, ahli epidemiologi penyakit menular, memperingatkan bahwa tidak semua spesies burung sama rentannya terhadap virus.

>>> Perkuat Lini Elektrifikasi, MG Rilis ZS Hybrid+ untuk Pasar Indonesia

Ia menyatakan kekhawatiran untuk spesies yang berkumpul dalam koloni besar, seperti burung pantai, yang sudah terancam punah.