Memasuki tahun ajaran 2026/2027, sejumlah sekolah negeri di Indonesia minim mendapatkan murid baru. Salah satunya SDN Purwoyoso 01 di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Sekolah yang terletak di Kecamatan Ngaliyan itu hanya menerima tiga murid baru di kelas 1. Meski demikian, para siswa tetap mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) secara meriah.

>>> Tuchel Akui Bertanggung Jawab atas Kekalahan Inggris dari Argentina

Faktor Demografi dan Zonasi

Kepala Sekolah SDN Purwoyoso 01, Hajar Riatiani, mengungkapkan sejumlah faktor penyebab minimnya murid baru.

Salah satu yang utama adalah kondisi demografis sekitar yang memengaruhi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) berbasis zonasi.

Menurut Hajar, minimnya siswa baru bukan disebabkan fasilitas sekolah yang kurang. Sekolah memiliki enam kelas, laboratorium komputer, perpustakaan, ruang UKS, musala, halaman, dan Smart TV bantuan pemerintah.

"Tapi sedikitnya siswa ini karena lingkungan demografi. Di sekitar sekolah ini sudah tidak ada perumahan yang produktif.

Rata-rata penduduknya sudah lansia, tidak punya anak usia masuk SD," ujar Hajar, Senin (13/7).

Ia menambahkan, banyak warga pindah ke daerah perbatasan seperti Kaliwungu, Kabupaten Kendal, yang memiliki banyak perumahan subsidi. Harga rumah di Kota Semarang dinilai sudah terlalu mahal.

Pada tahun ajaran sebelumnya, SDN Purwoyoso 01 menerima 11 murid baru. Di tengah tahun ajaran, jumlahnya bertambah satu menjadi 12 siswa baru.

>>> Apa Itu 'Las Malvinas' yang Diungkit Argentina usai Tekuk Inggris?

Tanggapan Wali Kota Semarang

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng membantah fenomena minim murid di sejumlah SD negeri karena perubahan demografi. "Enggak lah.

Pertumbuhan penduduk kita masih plus, bukan menuju nol," tegasnya.

Agustina menduga minimnya murid karena fasilitas SD negeri kalah menarik dibandingkan SD swasta. "Menurut Kepala Dinas Pendidikan saya, kalau dilihat-lihat SD kita itu memang kurang menarik," kata Agustina.

Hasil survei Dinas Pendidikan menunjukkan banyak orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya di SD swasta.

"Ternyata surveinya membuktikan bahwa orang tua itu nyaman kalau anak-anak sekolah di tempat yang memang fasilitasnya canggih," jelasnya.

Oleh karena itu, Dinas Pendidikan mengusulkan peningkatan fasilitas di SD-SD negeri. Selama ini pembangunan dan peningkatan fasilitas pendidikan lebih banyak difokuskan ke jenjang SMP.

>>> Pemprov DKI Panggil Pemilik Truk Terkait Kerugian JPO Tendean Miliaran Rupiah

"Makanya Kepala Dinas mengajukan supaya SD negeri dibuat sedemikian rupa supaya lebih bagus dan canggih seperti SD swasta," ucap Agustina.