Lebih dari 100 anggota DPR AS dari Partai Demokrat pada Rabu (15/7/2026) mendukung amandemen yang memblokir miliaran dolar bantuan militer ke Israel.

Langkah ini mengungkap perpecahan yang dalam dan semakin melebar di internal partai, meskipun amandemen tersebut akhirnya gagal di lantai DPR.

>>> Sam Kerr Desak Investasi A-League Usai Gabung Gotham FC

Amandemen yang diajukan oleh anggota DPR dari Partai Republik, Thomas Massie dari Kentucky, sebagai bagian dari paket belanja keamanan nasional yang lebih luas, ditolak dengan suara 104-314.

Sebanyak 103 anggota Demokrat dan satu anggota Republik mendukungnya.

Pimpinan Demokrat Terbelah

Pimpinan Partai Demokrat di DPR terbelah secara terbuka dalam voting ini. Pemimpin Minoritas Hakeem Jeffries, Ketua Kaukus Pete Aguilar, dan Wakil Ketua Kaukus Ted Lieu menolak amandemen tersebut.

Sementara itu, Ketua Whip Minoritas Katherine Clark dan mantan Ketua DPR Nancy Pelosi justru mendukungnya.

Anggota DPR dari Partai Demokrat, Greg Casar, yang juga pemimpin Kaukus Progresif, merayakan perubahan pola voting partainya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Mulai hari ini, mayoritas Demokrat di gedung ini menolak memberikan miliaran dolar senjata ke militer Israel," ujar Casar.

Casar menekankan bahwa hasil voting ini akan mengubah lanskap politik secara permanen. "Tidak akan ada yang sama lagi dalam masalah ini setelah voting ini," katanya.

Anggota DPR Katherine Clark, yang mendukung amandemen, menyatakan keprihatinannya tentang struktur proposal yang dipimpin Partai Republik.

"Ini bukan upaya untuk melakukan debat serius tentang bantuan militer ofensif ke Israel.

Ini lebih merupakan aksi dari anggota Kongres Republik yang lebih suka mencari poin politik murahan," kata Clark.

Meskipun mengkritik legislasi tersebut, Clark menegaskan bahwa kebijakan saat ini terhadap Israel memerlukan respons tegas. "Status quo tidak dapat dipertahankan.