Salah satu poin utamanya adalah tuntutan agar Teheran berkomitmen penuh untuk tidak pernah memiliki senjata nuklir.

Selain masalah nuklir, Trump juga mendesak agar Selat Hormuz segera dibuka untuk lalu lintas kapal internasional tanpa hambatan dan tanpa biaya tol.

Langkah ini dianggap krusial untuk menstabilkan rantai pasok energi dunia yang sempat terganggu akibat konflik di kawasan tersebut.

Trump juga menegaskan bahwa Republik Islam Iran harus bersedia melakukan pembersihan sisa-sisa ranjau di wilayah selat tersebut.

Kewajiban lain yang diminta AS adalah izin untuk menggali dan menghancurkan cadangan uranium yang diperkaya di bawah lokasi serangan militer tahun lalu.

Di sisi lain, pejabat AS mengungkapkan bahwa para negosiator telah menyusun Nota Kesepahaman (MOU) berdurasi 60 hari.

Dokumen ini bertujuan untuk memperpanjang masa gencatan senjata sekaligus memulai dialog mendalam terkait program nuklir Iran.

Meskipun draf MOU sudah disepakati oleh tim negosiasi, Presiden Trump masih memegang kendali penuh untuk menandatangani dokumen tersebut atau tidak.

Informasi mengenai detail nota kesepahaman ini pertama kali dipublikasikan melalui laporan media Axios.

Dinamika Gencatan Senjata dan Konflik Militer

Sebelumnya, pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026, harga minyak dunia sempat bergerak fluktuatif namun berakhir terkoreksi.

Penurunan tersebut terjadi setelah adanya sinyal kuat mengenai perpanjangan gencatan senjata antara Washington dan Teheran.

Harga Brent pada perdagangan tengah pekan itu turun 58 sen menjadi US$ 93,71 per barel.

Sebaliknya, WTI sempat menguat tipis sebesar 22 sen ke level US$ 88,90 per barel sebelum akhirnya ikut tertekan sentimen global.

Ketegangan sempat memuncak ketika kedua negara dilaporkan saling melancarkan aksi militer pada Kamis pagi.