Pihak Israel memulai perang ini bersama AS sejak 28 Februari lalu dan saat ini juga sedang terlibat pertempuran dengan kelompok Hizbullah di Libanon.

Donald Trump bahkan mengancam bakal menggulirkan kembali aksi pengeboman besar-besaran jika Iran menolak poin-poin persyaratan yang diajukan.

Meski sempat menyampaikan nada optimistis pada akhir pekan lalu dengan menyebut draf kesepakatan damai sebagian besar telah dinegosiasikan, Donald Trump justru berbalik arah pada hari Rabu dan menyatakan bahwa pihaknya belum puas.

Sebelum insiden di Bandar Abbas terjadi, Centcom mengonfirmasi adanya aksi pertahanan diri pada hari Senin lalu di wilayah Iran selatan.

Operasi tersebut menyasar situs rudal serta sejumlah kapal yang diduga mencoba memasang ranjau laut untuk mengincar armada militer AS.

Pemerintah Iran melayangkan kecaman keras terhadap rangkaian serangan udara tersebut.

Otoritas Teheran memandang aksi militer Amerika Serikat sebagai bentuk pelanggaran nyata terhadap poin-poin kesepakatan yang telah disetujui bersama.

"Sebuah pelanggaran berat terhadap gencatan senjata," kecam pihak Iran.

Pihak Iran bersumpah bahwa pemerintahnya tidak akan tinggal diam dan bakal merespons setiap tindakan permusuhan yang muncul.

Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menjatuhkan satu unit drone milik AS serta melepaskan tembakan ke arah jet tempur dan drone lain yang kedapatan menerobos wilayah udara mereka.

>>> Mendikdasmen Dorong Pemerataan Akses Pendidikan di Papua Barat Daya

Walau tidak merinci waktu kejadiannya, IRGC menekankan bahwa Iran mengantongi hak sah dan pasti untuk membalas setiap pelanggaran gencatan senjata oleh pihak militer AS.