Siklus ancaman dan serangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas, membahayakan kemajuan diplomatik yang telah dicapai. Pada hari Minggu, Tehran mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz.

Program Pangan Dunia (WFP) melaporkan bahwa 1,5 juta lebih sedikit orang yang mendapat bantuan pangan tahun ini akibat perang ilegal yang dilancarkan AS dan Israel.

>>> Senator Lindsey Graham Meninggal Dunia di Usia 71 Tahun

Negara-negara rentan paling menderita, dengan tambahan 2,5 juta orang di Somalia dan 2,3 juta di Afghanistan kesulitan memenuhi kebutuhan pangan dasar.

Dampak penuh terhadap produksi pangan belum sepenuhnya terasa. Selat Hormuz merupakan jalur utama ekspor pupuk global; ketika harga melonjak, banyak petani mengurangi penggunaannya.

Pengiriman uang dari pekerja migran di Teluk yang mengering juga merugikan negara-negara Asia dan Afrika.

Di Iran dan Lebanon, ribuan orang, termasuk warga sipil dan anak-anak, tewas serta infrastruktur penting hancur.

Iran semakin terpuruk dalam bencana ekonomi, dan rezim semakin keras dalam penindakan dengan dalih perang. Pembalasan Tehran telah menyebabkan kematian dan kerusakan di seluruh kawasan.

Konsumen di seluruh dunia membayar lebih mahal untuk energi dan pangan.

Menjelang pemilu paruh waktu, dampak domestik mendorong Presiden Trump menyetujui nota kesepahaman (MOU) dengan tenggat 60 hari untuk merundingkan kesepakatan yang lebih luas.

Namun, kurang dari sebulan, serangan kembali terjadi setelah Iran menyerang kapal yang melintasi selat dan AS membalas.

Ketidakjelasan MOU Memicu Eskalasi

Inti permasalahan terletak pada bagian kunci MOU. Ketidakjelasannya bukan karena kelalaian, melainkan upaya mengakomodasi posisi yang bertentangan.

MOU menyatakan Iran akan memulihkan pelayaran, menjamin keselamatan, dan bekerja sama dengan Oman dalam administrasi selat di masa depan, dengan kemungkinan biaya yang tampaknya masih terbuka.