Sebuah fosil tulang yang terlupakan di laci koleksi selama puluhan tahun ternyata menyimpan sejarah penting: penemuan dinosaurus pertama di Antartika.

Pada Desember 1985, ahli geologi British Antarctic Survey, Mike Thomson, mengumpulkan fosil tulang tak biasa di Semenanjung Ulu, Pulau James Ross.

>>> Peta Cuaca Ramalkan Dinding Hujan Besar Guyur Inggris

Ia mencatatnya sebagai "vertebra reptil besar".

Spesimen berusia sekitar 82-83 juta tahun itu kemudian disimpan di koleksi British Antarctic Survey di Cambridge dan tidak diteliti hingga Dr. Mark Evans, manajer koleksi, menemukannya saat memeriksa arsip.

"Saat pertama kali melihat tulang ini, saya curiga itu dinosaurus. Setelah diperiksa, saya pikir itu vertebra ekor titanosaurus," ujar Evans.

"Menarik melihat catatan Mike yang tahu itu reptil besar, dan kini terkonfirmasi 40 tahun kemudian."

Dikonfirmasi sebagai Titanosaurus

Ahli paleontologi di Natural History Museum London kemudian memeriksa tulang tersebut. Profesor Paul Barrett, rekan penulis studi, mengonfirmasi identifikasinya.

"Begitu melihatnya, saya langsung tahu itu titanosaurus," kata Barrett. Vertebra itu milik Titanosauria, kelompok sauropoda berleher panjang yang mencakup hewan darat terbesar yang pernah ada.

Reklasifikasi ini mengubah catatan paleontologi Antartika.

Sebelumnya, buku teks menyebut kerangka parsial dinosaurus lapis baja yang ditemukan tahun 1986 sebagai penemuan pertama di benua itu.

>>> Cristopher Sanchez Jadi Starter NL di MLB All-Star Game 2026

Kini, tulang Thomson yang dikoleksi setahun lebih awal memegang gelar resmi.

Fosil dinosaurus langka di Antartika karena cuaca ekstrem, lapisan es tebal, dan akses terbatas. Para peneliti memperkirakan hewan ini memiliki panjang enam hingga tujuh meter, seukuran bus besar.

Tulang tersebut terlalu tidak lengkap untuk menetapkan spesies baru.