PT Vale Indonesia Tbk mencatat kemajuan signifikan dalam proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) Sambalagi di Morowali, Sulawesi Tengah.

Autoclave, peralatan utama pengolahan bijih nikel limonit, telah tiba di lokasi proyek.

>>> Emas 74 Kg di Rumah Febrie, Purnawirawan Jenderal Sebut Prabowo Bisa Jadi Target Selanjutnya

Kehadiran autoclave menjadi tonggak penting menuju penyelesaian konstruksi fasilitas pengolahan nikel tersebut. Proyek ini ditargetkan mencapai first mechanical completion pada akhir 2026.

Autoclave merupakan komponen inti teknologi HPAL yang mengolah bijih limonit dengan suhu tinggi, tekanan tinggi, dan asam sulfat.

Proses ini menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku utama industri baterai kendaraan listrik.

Fasilitas HPAL Sambalagi dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 90.000 ton kandungan nikel per tahun dalam bentuk MHP.

Pasokan bijih limonit mencapai 10,4 juta ton per tahun dari tambang PT Vale di Bahodopi.

Komitmen Hilirisasi Berkelanjutan

Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto, menyatakan kedatangan autoclave menandai kemajuan nyata pembangunan proyek.

Hal ini juga mempertegas komitmen perusahaan terhadap hilirisasi mineral berkelanjutan.

"Kedatangan autoclave ini merupakan tonggak penting dalam Proyek HPAL Sambalagi.

Sebagai jantung dari proses HPAL, autoclave akan memungkinkan pengolahan bijih limonit menjadi produk bernilai tambah tinggi yang mendukung rantai pasok global kendaraan listrik," ujar Bernardus.

>>> Ramalan Zodiak 23 Juli: Leo Jangan Terburu-buru, Virgo Perluas Pertemanan

Ia menambahkan bahwa momentum ini mencerminkan komitmen PT Vale bersama para mitra untuk menghadirkan industri pengolahan nikel yang berdaya saing.

Proyek ini mengedepankan prinsip keberlanjutan, keselamatan kerja, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi Indonesia dan masyarakat sekitar.