Banyak orang tua merasa bingung saat anak menangis karena hal yang tampak sepele. Tidak sedikit yang langsung meminta anak berhenti tanpa memahami perasaannya.

Padahal, anak yang mudah menangis biasanya memiliki tingkat sensitivitas lebih tinggi. Mereka lebih peka terhadap lingkungan, perasaan orang lain, dan perubahan di sekitarnya.

>>> Kasatgas PRR Apresiasi Bantuan Ambulans dari Kopri untuk Sumatra

Respons orang tua sangat penting dalam membantu anak memahami emosinya. Dengan dukungan yang tepat, anak bisa belajar mengelola perasaan besar dan menghadapi situasi dengan lebih tenang.

Cara Menenangkan Anak yang Mudah Menangis

Berikut tujuh cara menenangkan anak yang mudah menangis dengan lebih bijak, dikutip dari Parents.

1. Kenali penyebab anak mudah menangis.

Sebelum meminta anak berhenti, pahami alasan di balik tangisannya. Anak dengan kepekaan emosional tinggi lebih mudah bereaksi terhadap situasi baru, suara keras, atau hal sepele.

Faktor lain seperti kurang tidur, perubahan rutinitas, stres, kelelahan, atau kondisi kesehatan tertentu juga bisa memicu tangisan.

2. Bantu anak mengenali dan mengatur emosinya.

Hindari mengatakan anak terlalu sensitif atau menyuruhnya berhenti menangis tanpa sebab. Ajak anak menyebutkan apa yang dirasakan, misalnya dengan menanyakan apa yang membuatnya sedih atau kecewa.

Dengan begitu, anak belajar bahwa emosi bisa dipahami dan dikendalikan.

3. Ajarkan teknik menenangkan diri.

Anak dengan emosi besar butuh strategi sederhana untuk kembali tenang. Orang tua bisa mengajarkan menarik napas dalam, berhenti sejenak, atau menghitung 1 sampai 10.

Latihan ini membantu anak mengalihkan fokus dari hal yang membuatnya kesal. Seiring waktu, anak bisa melakukannya secara mandiri.

>>> 10 Mobil Terlaris Juni 2026: Innova Kokoh di Puncak