Studi: Udara Berlabel 'Baik' Tetap Bisa Membahayakan Jantung

Kualitas udara yang tercatat 'baik' di aplikasi cuaca belum tentu aman bagi kesehatan.
Studi terbaru mengungkapkan bahwa paparan polusi pada tingkat yang masih memenuhi regulasi tetap dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung dan stroke.
>>> Kritik Terhadap Penunjukan Trump yang Dianggap Memanfaatkan Badan Keamanan Kimia untuk Deregulasi
Peneliti dari University of Mississippi meninjau puluhan studi ilmiah tentang dampak partikel halus PM2.5 terhadap jantung.
PM2.5 adalah partikel polusi sangat kecil dari emisi kendaraan, industri, dan asap kebakaran.
Tinjauan yang dipublikasikan di jurnal Environmental Pollution menganalisis 95 penelitian dari berbagai negara.
Studi-studi itu meneliti dampak PM2.5 pada konsentrasi di bawah ambang batas tahunan EPA, yaitu rata-rata 9 mikrogram per meter kubik.
Hasilnya, sekitar 67 persen studi menunjukkan hubungan signifikan antara paparan PM2.5 tingkat rendah dengan gangguan kardiovaskular.
Pada penelitian yang mengamati kejadian berat seperti stroke dan kematian akibat penyakit jantung, 76 persen menemukan kaitan bermakna.
Standar Kualitas Udara Perlu Dievaluasi
Penulis utama studi, Courtney Roper, Asisten Profesor Toksikologi Lingkungan University of Mississippi, menilai temuan ini menjadi sinyal perlunya evaluasi ulang standar kualitas udara.
"Jika regulasi benar-benar berfokus pada perlindungan kesehatan manusia, hasil tinjauan kami menunjukkan batas tersebut seharusnya diturunkan karena kami masih melihat dampak terhadap kesehatan jantung," ujarnya.
Penelitian juga menunjukkan bahwa kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita penyakit jantung memiliki risiko lebih tinggi. Masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi rendah juga disebut lebih terdampak.
>>> Kemenko Pangan dan PTPN I Kolaborasi Bangun Pusat Pembibitan Perkebunan Modern
Rekan penulis studi, James Stewart, menjelaskan bahwa tingkat bahaya dipengaruhi oleh sumber polusi. Emisi kendaraan, aktivitas industri, dan debu pertanian sama-sama berdampak buruk.
Update Terbaru
Christopher Nolan: Para Pemain The Odyssey Benar-benar Belajar Berlayar
Senin / 13-07-2026, 21:07 WIB
The Future Games Show Kembali Bulan Depan dengan Tiga Acara dan Puluhan Pengumuman
Senin / 13-07-2026, 21:07 WIB
Trailer Perdana Digger: Tom Cruise Picu Bencana Apokaliptik dalam Komedi Hitam
Senin / 13-07-2026, 21:07 WIB
Bethesda Konfirmasi Tim Elder Scrolls Online Kembali ke Ukuran Saat Rilis Konten Terbaik
Senin / 13-07-2026, 21:03 WIB
Jadwal Tayang Anime dan Berita Anime 13-14 Juli 2026
Senin / 13-07-2026, 21:03 WIB
Kontroversi Valko di Love and Deepspace dan Penutupan Final Fantasy VII Ever Crisis
Senin / 13-07-2026, 21:03 WIB
Trump Klaim Popularitas 59% di Tengah Kenaikan Harga Minyak dan Konflik Iran
Senin / 13-07-2026, 21:01 WIB
Fenomena Super El Niño Mendekat, Ancaman Rekor Pemanasan Global
Senin / 13-07-2026, 21:01 WIB
Old Farmer's Almanac Ramalkan Cuaca Musim Gugur 2026 yang Terbelah di AS
Senin / 13-07-2026, 21:01 WIB
Jay-Z Hadirkan Rihanna dan Beyoncé di Malam Ketiga Konser Yankee Stadium
Senin / 13-07-2026, 21:00 WIB
Josh Grisetti, Bintang 'Marvelous Mrs. Maisel', Meninggal Bunuh Diri di Usia 44
Senin / 13-07-2026, 21:00 WIB
Thomas Tuchel dan Jude Bellingham Adu Argumen Usai Inggris ke Semifinal Piala Dunia 2026
Senin / 13-07-2026, 21:00 WIB
Resmi Jadi WNI, Mitchell Baker Siap Perkuat Timnas Indonesia, Erick Thohir Beri Pesan Tegas
Senin / 13-07-2026, 21:00 WIB
Mengenal Noh, Seni Pertunjukan Tertua di Jepang yang Abadi
Senin / 13-07-2026, 20:57 WIB







