Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim memiliki tingkat persetujuan publik sebesar 59 persen dan mengaitkan penurunan harga bahan bakar dengan kebijakannya.

Klaim itu disampaikan pada 12 Juli 2026, saat gelombang baru serangan militer antara AS dan Iran mendorong harga minyak mentah global naik.

>>> Fenomena Super El Niño Mendekat, Ancaman Rekor Pemanasan Global

Data jajak pendapat independen justru menunjukkan angka yang bertolak belakang. Tingkat persetujuan nasional Trump berkisar antara 37 hingga 40 persen, sementara tingkat ketidaksetujuan mencapai 59 persen.

Perbedaan ini muncul di tengah eskalasi militer.

AS melancarkan serangan udara keempat terhadap Iran dalam sepekan, yang dibalas Iran dengan serangan ke pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Oman.

Teheran kemudian menyatakan Selat Hormuz ditutup.

Namun, Komando Pusat AS membantah dan menyatakan kapal masih bisa melintas bebas di jalur yang membawa sekitar 20 persen pasokan minyak dunia itu.

Eskalasi ini menyebabkan harga minyak mentah Brent melonjak hampir 4 persen menjadi lebih dari 78 dolar AS per barel.

Gencatan senjata rapuh yang disepakati pada 17 Juni resmi dibatalkan pada 8 Juli.

Di tengah perkembangan itu, Trump mengunggah pesan di platform media sosialnya. Ia menulis, "59% Approval Rating.

Harga turun seiring penurunan harga minyak dan gas. Terima kasih!

Presiden DJT."

>>> Old Farmer's Almanac Ramalkan Cuaca Musim Gugur 2026 yang Terbelah di AS

Namun, harga bahan bakar eceran nasional justru naik sekitar 30 persen sejak perang dimulai pada Februari.

Data AAA menempatkan rata-rata harga bensin reguler nasional di angka 3,87 dolar AS per galon.

Survei Economist/YouGov pada 3-6 Juli menunjukkan 61 persen warga Amerika tidak setuju dengan kinerja Trump secara keseluruhan.