Dari semua bentuk ekspresi manusia, tari adalah salah satu yang paling tua dan universal.

Setiap budaya memiliki gaya tarinya sendiri, termasuk Jepang yang memiliki Noh, seni pertunjukan tertua di negara tersebut.

>>> Jujutsu Kaisen, Chainsaw Man, dan Manga Lain Masuk Daftar Laris NYT Juli

Noh (能) dimulai pada periode Muromachi (1336–1573) dan masih terus dipentaskan hingga kini. Meski sempat terancam oleh modernisasi dan westernisasi, Noh tetap bertahan sebagai warisan budaya.

Apa Itu Noh?

Noh dikenal dengan topengnya yang ikonik, kostum rumit, musik, dan koreografi yang terukur. Pertunjukan ini biasanya menceritakan kisah dewa, makhluk supernatural seperti Oni dan Tengu, serta cerita rakyat.

Topeng Noh (能面) dibuat dari kayu cemara Jepang dan dilapisi lakuer, menjadikannya karya seni yang hampir abadi.

Hanya aktor utama yang memakai topeng, dan dengan memiringkan kepala, ia dapat menciptakan ilusi perubahan ekspresi.

Panggung Noh disebut butai, dengan jalan masuk diagonal bernama hashigakari yang melambangkan hubungan antara dunia mitos dan dunia nyata.

Atap panggung menyerupai atap kuil Shinto, menambah kesan sakral.

Ada empat tiang penyangga atap: shite-bashira (tiang tokoh utama), metsuke-bashira (tiang pandang), waki-bashira (tiang tokoh sekunder), dan fue-bashira (tiang seruling).

Panggung tradisional terbuat dari kayu cemara Jepang yang sama dengan topeng.

Jenis lakon Noh meliputi Kami (dewa), Shura (prajurit), Katsura (wanita), dan Kiri (makhluk supernatural). Suasana lakon dibedakan menjadi Mugen (lompatan waktu spiritual) dan Genzai (waktu normal).

Gaya lakon terbagi menjadi Geki (fokus narasi) dan Furyu (fokus tari dan estetika).

Aktor utama (shite) memerankan tokoh sentral, sementara waki menjadi lawan, diiringi paduan suara (kyogen) dan musisi (hayashi).