Tarian Noh sangat minimalis dan lambat, berbeda dengan Kabuki yang lebih enerjik. Gerakan yang mengalir pelan menjadi ciri khasnya, kadang terlihat hampir tidak bergerak.

>>> Proyeksi Pertumbuhan Laba S&P 500 Meningkat Jelang Laporan Keuangan

Zeami Motokiyo: Tokoh Legendaris di Balik Noh

Zeami Motokiyo, yang dijuluki Oniyasha di masa mudanya, adalah tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Noh.

Ia mengembangkan Noh dari sarugaku (musik monyet) yang lebih akrobatik dan komedi menjadi bentuk yang serius dan halus.

Ayah Zeami, Na'ami Kiyotsugu, telah memberikan kontribusi besar pada Noh. Zeami kemudian mendefinisikan Noh seperti yang kita kenal sekarang, baik secara akademis maupun kreatif.

Pengaruh Zeami terhadap Noh sebanding dengan pengaruh William Shakespeare terhadap teater Barat. Keduanya berada di puncak seni mereka dan menghadapi gejolak politik yang memengaruhi karya mereka.

Noh sempat terancam punah pada periode Meiji karena ketidaktertarikan pada hal klasik.

Baru pada tahun 1957 Jepang mengakui Noh sebagai Warisan Budaya Takbenda (Mukei Bunkazai) bersama Bunraku, Kabuki, dan Kumiodori.

Pada masa Zeami, laki-laki, perempuan, dan anak-anak boleh tampil di Noh.

Namun, norma patriarki kemudian mengeluarkan perempuan dari panggung hingga abad ke-20, ketika Tokyo Music School kembali mengizinkan mereka.

Noh di Mata Dunia

Noh telah dikenal luas di luar Jepang berusia hampir 1000 tahun dan statusnya sebagai seni penting.

Banyak buku, artikel jurnal, dan video pertunjukan Noh tersedia bagi siapa pun yang ingin mempelajarinya.

Meski sering dianggap kaku dan membosankan, Noh sebenarnya beragam: ada tragedi, horor, komedi, dan roman. Pengaruhnya menyebar ke budaya populer global.

Salah satu contoh pengaruh Noh adalah pada band Talking Heads.

>>> Caleb Williams Masuk 10 Besar Ranking Quarterback NFL Versi ESPN

Vokalis David Byrne terinspirasi oleh kostum Noh yang longgar setelah melihat pertunjukan di Jepang, yang kemudian menjadi ciri khas penampilan panggungnya.