Bursa saham Amerika Serikat ditutup mixed pada Senin, 13 Juli 2026, setelah eskalasi ketegangan militer antara AS dan Iran di Timur Tengah mendorong harga minyak mentah naik dan membebani saham teknologi.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik sekitar 0,1 persen, menjadi satu-satunya indeks utama yang mencatat penguatan.

>>> Para Pegolf Bersiap untuk Kejuaraan Terbuka 2026 di Royal Birkdale

Sementara itu, S&P 500 turun 0,3 persen dan Nasdaq Composite merosot 0,7 persen, seperti dilaporkan Yahoo Finance.

Kekhawatiran pasar meningkat setelah AS melancarkan serangan akhir pekan di dekat Selat Hormuz, yang memicu respons balasan Iran terhadap sekutu regional AS, termasuk Kuwait, Yordania, dan Qatar.

Permusuhan yang kembali memanas ini mengancam pembahasan bilateral yang sedang berlangsung untuk mengakhiri konflik. Presiden Donald Trump mencatat bahwa negosiasi masih berlanjut meskipun penilaian pribadinya terhadap situasi diplomatik.

"Selesai," kata Donald Trump, Presiden AS.

Bersamaan dengan itu, harga minyak melonjak dengan Brent mendekati $80 per barel setelah pernyataan militer Iran mengenai blokade jalur pelayaran.

>>> Saham Western Digital Anjlok 5,4 Persen Akibat Aksi Jual Sektor Semikonduktor Global

"Selat Hormuz akan ditutup sampai pemberitahuan lebih lanjut," kata Korps Garda Revolusi Islam.

Kelompok militer tersebut lebih lanjut merinci kondisi blokade maritim di jalur pelayaran strategis itu. "Sampai berakhirnya intervensi Amerika di kawasan ini," kata Korps Garda Revolusi Islam.

Pemerintah AS tetap menyatakan bahwa selat tersebut tetap terbuka penuh meskipun ada pernyataan tersebut.

Gejolak geopolitik ini kembali memicu kekhawatiran inflasi menjelang rilis Indeks Harga Konsumen pada Selasa dan Indeks Harga Produsen pada Rabu.

Laporan ekonomi yang akan datang ini akan memberikan sinyal mengenai pergerakan suku bunga Federal Reserve di masa depan.

>>> Buku Puisi Esai Denny JA Akan Diterjemahkan ke 35 Bahasa Usai Raih BRICS Award 2025

Musim laporan laba perusahaan juga dimulai minggu ini dengan laporan dari bank-bank besar, UnitedHealth, Netflix, dan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company.