Harga minyak mentah global sedikit melemah pada awal perdagangan Eropa, Kamis (9/7/2026), setelah sebelumnya melonjak akibat serangan militer baru yang dilancarkan Komando Pusat Amerika Serikat terhadap target-target Iran.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman September turun 0,3% menjadi US$77,73 per barel, membalikkan kenaikan yang terjadi di awal sesi perdagangan.

>>> Ahli Kaitkan Retorika Politik dengan Gelombang Kerusuhan di Inggris

Koreksi ini terjadi sehari setelah Brent melonjak 5,4%, yang merupakan persentase kenaikan harian terbesar sejak 4 Mei.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Agustus turun 0,2% menjadi US$73,40 per barel.

WTI sebelumnya naik 4,4% pada Rabu, mencatat kenaikan harian terbesar sejak 1 Juni.

Volatilitas pasar dipicu pernyataan resmi Komando Pusat AS pada Rabu yang mengonfirmasi serangan udara baru terhadap Iran.

Intervensi militer itu merupakan respons langsung terhadap serangan Tehran terhadap kapal dagang di sekitar Selat Hormuz.

>>> Costco Digugat Gara-gara Kandungan Logam Berat dalam Protein Powder

Ketegangan geopolitik meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak lagi tertarik pada negosiasi diplomatik dengan Iran.

Trump sebelumnya menyatakan gencatan senjata antara AS dan Iran "berakhir" setelah gelombang serangan militer di Timur Tengah.

Analis pasar mencatat konflik geopolitik terus memengaruhi sentimen perdagangan energi karena pentingnya jalur pasokan regional.

"Pasar kembali dipaksa memperhitungkan risiko bahwa serangan baru terhadap pengiriman, atau keruntuhan hubungan AS-Iran yang lebih luas, dapat memperlambat normalisasi arus melalui Selat Hormuz," menurut Saxo.

>>> Bonnie Tyler Raih 1 Miliar Streaming Spotify untuk Total Eclipse of the Heart

Lembaga keuangan itu menekankan bahwa Selat Hormuz merupakan salah satu titik rawan energi global, sehingga gangguan kecil pun dapat berdampak besar pada harga, biaya pengiriman, dan sentimen pasar.