Diplomat Amerika Serikat Rahm Emanuel memperingatkan bahwa Israel menghadapi isolasi diplomatik global yang semakin dalam dan pergeseran dukungan politik dari AS akibat perang di Gaza.

Peringatan itu disampaikan Emanuel dalam pidato di Universitas Tel Aviv pada Rabu, 8 Juli 2026.

>>> Bus MTA Tabrak Gedung di Maryland, 33 Orang Terluka

Emanuel, mantan penasihat senior dan kepala staf di pemerintahan AS sebelumnya, berbicara di tengah perubahan sikap Partai Demokrat terkait bantuan militer dan kebijakan luar negeri terhadap Israel.

Ia menilai strategi militer Israel telah berdampak pada posisi global negara itu, membuat pengamat menyimpulkan bahwa Israel tidak menghargai nyawa manusia.

"Meninggalkan dunia untuk menyimpulkan bahwa Israel tidak hanya ingin membunuh warga Palestina tetapi mereka sama sekali tidak peduli terhadap kematian, kehancuran, dan penderitaan mereka," kata Emanuel.

Ia memperingatkan bahwa dominasi militer saja tidak dapat menyelesaikan kerentanan strategis akibat hilangnya dukungan internasional di bidang diplomatik, ekonomi, dan budaya.

>>> Hakeem Jeffries Abaikan Potensi Tantangan Kepemimpinan dari Kandidat Progresif

"Anda kurang aman hari ini, bukan lebih, dan masalahnya bukan kurangnya kekuatan militer tetapi sesuatu yang lebih mendasar," ujar Emanuel.

Emanuel juga membandingkan kelompok politik yang menginginkan satu wilayah tanpa koeksistensi dengan aktivis radikal yang menyangkal legitimasi pihak lawan.

Ia mengusulkan solusi "23 negara" yang mencakup kedaulatan negara Palestina dan pengakuan dari 21 negara Arab.

Sebuah survei Federasi Yahudi Amerika Utara pada Februari 2026 menunjukkan 88% warga Yahudi AS menegaskan hak Israel untuk eksis sebagai negara Yahudi yang demokratis.

>>> Tom Hanks Rayakan Ulang Tahun ke-70, Karier Akting Tetap Bergelora

Pidato ini terjadi di tengah ketegangan di AS, termasuk insiden di mana Senator Negara Bagian California Scott Wiener mendapat pelecehan dari aktivis pro-Palestina di San Francisco.