Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghentikan gencatan senjata dengan Iran. Keputusan ini diumumkan di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Israel menyambut positif langkah Trump.

>>> Satgas Cartenz Tangkap DPO Sindikat Jual Beli Senpi Ilegal di Yahukimo

Juru bicara militer Israel menyatakan tentara dalam siaga tinggi dan siap bergabung dalam perang bersama AS melawan Iran.

AS kembali meluncurkan serangan terhadap Iran di wilayah selatan dekat Selat Hormuz. Serangan terjadi saat prosesi pemakaman mantan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei.

Trump mengatakan gencatan senjata dengan Iran sudah berakhir. "Kita membuang-buang waktu untuk berbicara dengan mereka.

Kita harus melakukan urusan kita sendiri," ujarnya saat membuka KTT NATO di Turki.

Militer Israel telah melakukan persiapan sejak hari pertama gencatan senjata. Israel tidak mempercayai janji-janji Iran dan menganggapnya sebagai manuver belaka.

Juru bicara militer Israel menambahkan, "Kepemimpinan Iran, yang mabuk oleh kemenangan yang dibayangkan, tidak membuat perhitungan bertanggung jawab.

Mereka bertindak arogan dan mencoba memeras Amerika Serikat."

Israel memperkirakan kesabaran Trump terhadap Teheran akan habis. Tentara Israel tetap menjalin kontak erat dengan Komando Pusat AS (CENTCOM) untuk membahas kemungkinan dimulainya kembali perang.

Tel Aviv meninjau pengalaman dari dua perang sebelumnya pada Juni 2025 dan Februari 2026. Israel mengambil pelajaran untuk meningkatkan kinerja dan mempersiapkan target baru untuk perang ketiga.

>>> Tinggalkan PKS, Komedian Narji Resmi Gabung PSI

Pertemuan koordinasi terbaru antara kedua komando diadakan pada akhir pekan lalu. Pertemuan itu sebagai persiapan skenario konfrontasi kembali terjadi.

Tindakan Iran menjadi agenda utama kunjungan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada Rabu (8/7). Kunjungan tersebut dibatalkan pada menit terakhir, menyebabkan rasa malu di Tel Aviv.