Amerika Serikat kembali melancarkan serangan besar-besaran ke Iran. Dalam dua hari terakhir, total 170 target militer di negara tersebut menjadi sasaran gempuran.

Serangan ini dipicu oleh pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut nota kesepahaman (MoU) antara AS dan Iran telah berakhir.

>>> Kendaraan Mati Pajak Tak Bisa Beli BBM di Jatim Hoaks

Trump mengumumkan hal itu pada Rabu (8/7).

Pada Kamis (9/7), militer AS menghantam sekitar 90 target di Iran. Sehari sebelumnya, mereka telah menyerang 80 target.

Akumulasi total mencapai 170 target.

Sebagian besar serangan difokuskan di pantai selatan Iran. Namun, beberapa serangan juga mencapai wilayah pedalaman dan utara negara tersebut.

>>> Tiga Pekerja Tewas di Gorong-gorong Cipayung, Diduga Kekurangan Oksigen

Kementerian Kesehatan Iran melaporkan 14 orang tewas dan 78 lainnya luka-luka akibat serangan ini. Infrastruktur sipil seperti jembatan kereta api di Aqalla juga rusak parah.

Iran menuding AS menyerang infrastruktur sipil penting, termasuk instalasi air dan listrik. Tindakan tersebut dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.

Menanggapi serangan ini, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bersumpah akan melancarkan balasan yang lebih tegas. Ketegangan antara kedua negara semakin meningkat.

Trump sebelumnya mengatakan bahwa MoU dengan Iran hanya membuang waktu.

>>> Viral: Romero Rayakan Gol di Depan Mo Salah, Aksi Provokatif Tuai Kontroversi

Ia kemudian memerintahkan serangan pada Rabu malam dengan alasan Iran meluncurkan drone dan rudal ke kapal-kapal AS di selat.