Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran untuk hari kedua berturut-turut pada Rabu (8/7/2026). Situasi di Timur Tengah semakin memanas.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran. Iran dinilai mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

>>> Render CAD Galaxy A18 Bocor, Tampilkan Desain dan Dimensi

"AS meminta Iran bertanggung jawab atas agresi yang tak dapat dibenarkan baru-baru ini terhadap kapal komersial dan awak sipil," tulis CENTCOM di platform X.

Serangan terjadi setelah tiga kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz dilaporkan menjadi sasaran. Angkatan Laut AS mengerahkan lebih dari 20 kapal perang untuk patroli.

Operasi militer ini berlangsung setelah Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan dalam KTT NATO di Ankara, Turki. "Malam ini kami akan menyerang mereka dengan keras," ujar Trump.

Trump menambahkan bahwa dirinya tidak memperkirakan konflik akan berkembang menjadi perang skala penuh.

>>> Georgina Beri Reaksi Menyentuh Usai Ronaldo Umumkan Pensiun dari Piala Dunia

CENTCOM mengklaim telah menghantam lebih dari 80 target strategis di Iran sejak Selasa (7/7/2026) malam.

Menanggapi serangan, pemerintah Iran menyatakan angkatan bersenjatanya dalam kondisi siaga. Iran siap memberikan respons tegas.

Menurut laporan media pemerintah Iran, Press TV, Teheran memperingatkan akan menutup Selat Hormuz jika serangan berlanjut. Iran juga mengklaim siap melancarkan serangan balasan dengan kekuatan lebih besar.

>>> Anak Kembar P. Diddy Luncurkan Brand Fashion saat Ayah Dipenjara

Ketegangan di kawasan Teluk memicu kekhawatiran internasional. Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi minyak dunia, dan penutupannya berpotensi mengganggu pasokan energi global.