Calon presiden potensial dari Partai Demokrat, Rahm Emanuel, dijadwalkan menyampaikan pidato di Universitas Tel Aviv pada Rabu (19/3) yang menuntut perubahan besar dalam hubungan antara Amerika Serikat dan Israel.

Menurut naskah pidato yang diperoleh Associated Press, Emanuel akan menyebut aliansi historis kedua negara berada di "persimpangan jalan."

>>> Martinez Sebut Portugal Tidak Gagal di Piala Dunia 2026

"Hubungan ini tidak bisa bertahan seperti sekarang," kata Emanuel, seorang Demokrat sentris dan mantan Duta Besar AS untuk Jepang.

Ia menambahkan bahwa untuk menjaga kekuatan ikatan bilateral, diperlukan perubahan signifikan dan arah baru. Kebijakan AS selama ini dinilai salah karena memberikan dukungan tanpa syarat kepada kepemimpinan Israel.

Emanuel berencana mengkritik Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang dianggap membawa negaranya ke "jalan buntu." Ia memperingatkan bahwa dukungan global terhadap Israel semakin terkikis.

"Dukungan untuk Israel merosot di seluruh dunia," kata Emanuel. "Kalian kehilangan Eropa."

Ia mencontohkan para ilmuwan Israel menghadapi eksklusi dari jaringan riset internasional, serta seniman dan akademisi yang dilarang dari pameran dan konferensi.

Jajak pendapat AP-NORC Center for Public Affairs Research menunjukkan 58% Demokrat menganggap AS "terlalu mendukung" Israel, naik dari 45% pada Januari 2024.

>>> Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Bener Meriah Ucapkan Terima Kasih

Emanuel mengusulkan sanksi terhadap warga Israel yang menargetkan warga sipil Palestina, serta pembatasan pada entitas keuangan yang mendukung permukiman ilegal.

Ia juga mendorong Israel membeli persenjataan AS dengan syarat yang sama seperti sekutu tepercaya lainnya.

"Terlalu lama, kebijakan AS terhadap Israel berasumsi bahwa yang terbaik adalah mendukung pemerintah Anda secara buta dan diam, tanpa syarat, tanpa tuntutan, dan tanpa konsekuensi," ujar Emanuel.

"Itu adalah kesalahan kami.

Dukungan tanpa syarat telah menghasilkan perdana menteri yang menganggap kepentingan strategisnya tidak akan berbenturan jika mengabaikan kekhawatiran AS," katanya menargetkan strategi politik Netanyahu.

>>> Eks Wagub: Usul Ubah Nama Jabar Jadi Tatar Sunda Belum Urgen

Kritik terbuka ini berpotensi mengganggu hubungan yang sudah lama terjalin. Netanyahu sebelumnya pernah menyebut Emanuel sebagai "Yahudi yang membenci diri sendiri" dalam perselisihan politik sebelumnya.